RADAR JOGJA – Setahun lebih pandemi Covid-19, belum ada tanda-tanda berakhir. Bahkan di Sleman, jumlah kasusnya makin banyak. Dalam dua pekan ini muncul dua klaster dan persebaran yang tinggi. Pemerintah harus membuat inovasi baru dalam penanganan virus ini.
Selain yang terjadi di Padukuhan Blekik dan Padukuhan Tempursari di Kalurahan Sardonoharjo. Juga terjadi di Padukuhan Plalangan, Pandowoharjo, Sleman. Kemudian baru-baru ini juga terjadi di Kalurahan Sidoluhur, Kapanewon Godean dan Kampung Flory, Tlogoadi, Mlati.
Warga yang terkonfirmasi positif melalui tes polymerase chain reaction (PCR) sebagian menjalani isolasi di fasilitas kesehaan (faskes) darurat milik pemerintah, Rusunawa Gemawang dan Asrama Haji. Sebagian lagi menjalankan isolasi mandiri di rumah masing-masing. Termasuk mereka yang kontak erat. Nah, isoman ini berdampak besar bagi aktivitas warga. Baik dari psikologi, sosial dan ekonomi.
Seperti halnya kasus Covid-19 di Padukuhan Blekik dan Padukuhan Tempursari, Kalurahan Sardonoharjo akibat klaster takziah. Lurah Sardonoharjo Harjuno Wiwoho mengungkapkan, dampak psikologi warganya sangat terasa. Khususnya anak-anak yang terpisah dari orangtuanya. Lantaran melakukan isolasi di tempat berbeda. Belum lagi terkait pembatasan akses. Mulai berdampak ke perekonomian. Karena warga pergi ke ladangnya, padahal saat ini padi harus mulai dipanen. Lantaran tak bisa mengurus tenak, warga terpaksa menjual murah ternaknya karena ditinggal isolasi. Mereka tak bisa mencari rumput. “Nah, kondisi ini yang sebenarnya dilema. Karena kebutuhan warga tak hanya makan,” kata Harjuno kepada Radar Jogja, Sabtu  (2/4).
Pendampingan psikologis sulit dilakukan karena dalam proses isoman. Padahal mereka butuh pendampingan. Anak-anak hanya bisa diberikan mainan untuk hiburan. Warga yang mendesak aktivitas bertani, akhirnya akses pengamanan sesikit dilonggarkan. Awalnya pengamanan ketat, semua akses keluar masuk padukuhan ditutup. Tetapi karena padi harus segera dipanen, warga diperkenankan melewati pintu bagian barat khusus untuk memanen padi. Menjelang sore, pintu ditutup kembali. “Seperti itu kondisinya. Ada sekitar 20 kepala keluarga bertani,” beber pria yang akrab disapa Juno itu.
Total warga yang menjalani isolasi mandiri ada 56 orang. Sebanyak 22 di antaranya berada di Padukuhan Blekik dan lainnya merupakan warga Padukuhan Tempursari. Mereka, menjalani isoman sejak 24 Maret setelah menjalankan swab masal antigen tingkat puskesmas. Berdasarkan keluhan warga, ditemukan adanya ketidakakuratan data. Sebab, warga yang dinyatakan postitif dari puskesmas, lalu kembali melakukan swab di Rumah Sakit. Yang semula positif setelah di cek ulang di tempat berbeda menjadi negatif. “Masyarakat itu percaya covid-19 ada. Namun mereka cukup dilema dengan hasil berbeda,” paparnya.
Pihaknya, berkoordinasi dengan satgas padukuhan hingga RT/RW juga satgas tingkat kapanewon hingga kabupaten memberikan penanganan terbaik bagi warganya. Dia berharap kejadian ini tidak terulang lagi. Sosialisasi prokes selalu ditekankan untuk mengantisipasi persebaran Covid-19.
Isolasi juga dilakukan 16 karyawan di sebuah Resto Kampung Flory, Tlogoadi, Mlati pada 27 Maret. Enam karyawan warga Tlogoadi yang terpapar Covid-19, menjalani isoman. Koordinator Lapangan Satgas Covid-19 Kalurahan Tlogoadi Riswanto menuturkan, isoman diberikan support berupa jaminan hidup (jadup) jatah makanan sehari tiga kali. Selain itu diberikan support tambahan oleh manager resto tempat mereka bekereja. “Tracing lanjutan, beberapa yang di list akan dilakukan koordinasi lebih lanjut dengan Puskesmas untuk penanganan,” katanya. (mel/pra)

Sleman