RADAR JOGJA – Jumlah usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Sleman 68 ribu. Kendati begitu, belum semua mengantongi legalitas usaha. Untuk itu, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Sleman mendorong agar pelaku UMKM segera memiliki izin usaha mikro kecil (IUMK) dan nomor induk berusaha (NIB).
Kepala Seksi Pengembangan Usaha Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (DKUKM) Sleman Sri Wahyuni Budiningsih menegaskan pentingnya legalitas bagi pelaku usaha kecil. Sesuai dengan Peraturan Bupati Nomor 16 Pasal 2 tahun 2016 semua pelaku usaha di Kabupaten Sleman harus mendaftarkan usahanya. Hal itu, menjadi syarat mendapatkan fasilitas seperti pelatihan, penguatan modal dan lain-lain.
“Harus mendaftar di satu data UMKM di pusat layanan usaha terpadu (PLUT) Sleman,” ungkap perempuan yang akrab disapa Yuyun kemarin.
PLUT, kata dia, ibarat rumah sakit bagi pelaku usaha. Sehingga, apabila ada keluhan dan aduan, ada lima konsultan yang siap melayani para pelaku usaha di Sleman.
Dia menerangkan, pendaftaran usaha ini lebih mudah. Sebab, sudah menggunakan sistem online, melalui aplikasi one single submission (OSS). Aplikasi ini dapat diunduh melalui handphone android. Atau bila kesulitan, dapat mendatangi kantor kalurahan ataupun kapanewon setempat. “Kami sudah berkoordinasi dengan forkompi,” ujarnya.
Bahkan di akhir Maret pihaknya telah melakukan program coaching bagi pelaku UMK. Yakni, dengan membuat legalitas usaha. Kegiatan ini menyasar 20 orang di kantor PLUT KUKM Sleman. Bekerjasama dengan himpunan pengusaha pribumi Indonesia (HIPPI) Sleman. Yaitu untuk mewujudkan misi bersama menuju UKM sembada bermuatan lokal dan berdaya saing global.
Kepala Bidang Pelatihan dan Pendidikan DPC HIPPI Sleman Rezki Wulan Ramadhanty menambahkan, adanya program ini sebagai upaya dukungan, mendorong eksistensi UMKM di Sleman lebih berkelas. Terlebih, saat pandemi Covid-19 seperti ini. ”Dibutuhkan upaya bersama dalam pemulihan ekonomi ke depan,” terangnya.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa mengatakan, UMKM salah satu sektor yang turut terdampak pandemi Covid-19. Kendati begitu, masih berpeluang besar meningkatkan perekonomian lantaran dapat memanfaatkan pangsa pasar online atau marketplace. Berbeda dengan sektor usaha pariwisata yang saat ini masih macet, khususnya di Sleman Utara. Karena sebagian berada di kawasan rawan bencana (KRB) III, sehingga belum dapat dibuka.
“Nah, PPKM yang mulai melonggar ini, diharapkan aktivitas UMKM bangkit kembali. Karena kegiatan pameran, bazar, dapat dilaksanakan secara langsung dengan kuota 25 persen dari kapasitas ruang dan dengan protokol kesehatan yang ketat,” ungkap Danang. (mel/bah)

Sleman