RADAR JOGJA – Masyarakat Kabupaten Sleman diminta terus waspada terhadap persebaran Covid-19. Pelaksanaan disiplin protokol kesehatan (prokes) tak boleh abai. Terlebih saat menggelar hajatan atau kegiatan yang mengundang kerumunan.
Hal ini disampaikan Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo (KSP) usai menggelar evaluasi pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berbasis mikro di Aula Sekda Sleman, Rabu (31/3).
Adanya dua kegiatan takziah yang memicu klaster Covid-19, menjadi catatan penting. Bahwa masyarakat masih abai menerapkan prokes. Terlebih dalam kegiatan yang mengundang kerumunan.
“Kami koordinasi antar OPD (organisasi perangkat daerah,Red) untuk ditindak-lanjuti. Besok (2/4) kami buat surat edaran (SE) untuk masyarakat,” ungkap KSP.
Rencananya SE akan disebarkan minggu depan. Mulai tingkat kapanewon, kalurahan, dukuh dan RT. “SE baru kami koordinasikan besok, bagaimana aturan mainnya yang bisa disikapi oleh masyarakat, yang implementatif,” kata Harda.
Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman Harda Kiswaya menjelaskan, tindakan tracing dan tester yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman saat ini sudah bagus. Kendati begitu, belum dibarengi dengan sikap disiplin masyarakat. Sehingga, adanya edaran itu, mendorong agar stakeholder terus menyosialisasikan prokes.
Diakui Harda, Sleman mendapat teguran dari Gubernur DIJ terkait adanya klaster Covid-19 yang menyebabkan wilayah ini kembali dalam zona merah. Padahal, sebelumnya sempat menguning. Nyatanya, seiring adanya pelonggaran pada PPKM mikro, justru tidak disikapi dengan ketaatan prokes. “Kita merasa enak dikit prokes langsung kendor. Ini jangan sampai,” tekannya.
Kemudian yang menjadi catatan lagi, dalam waktu dekat ini mulai memasuki peringatan nyadran. Pemkab khawatir jika hal ini tak segera ditindaklanjuti akan muncul klaster baru.
Nah, kegiatan sosial di masyarakat ini hendak ditekankan lagi pelaksanaannya. Kegiatan harus benar-benar mengacu pada aturan PPKM mikro. Sebagaimana kegiatan sosial hanya dapat dilaksanakan 25 persen dari kapasitas ruang. “Ini kami terapkan betul-betul,” ujarnya.
Sebelumnya diketahui dua padukuhan di Kabupaten Sleman, tepatnya di Padukuhan Plalangan, Pandowoharjo, Sleman dan Padukuhan Blekik, Sardonoharjo, Ngaglik menjadi klaster persebaran Covid-19. Kasus pertama yang muncul di dua padukuhan tersebut hampir sama, yakni berawal dari takziah salah satu warga yang meninggal dunia. Setelah dilakukan pelacakan jumlah warga yang terpapar Covid-19 mencapai puluhan. Sehingga dua padukuhan tersebut dilakukan pembatasan atau lockdown kampung yang dijaga ketat oleh petugas keamanan setempat. (mel/bah)

Sleman