RADAR JOGJA – Bencana hidrometeorologi menjadi salah satu ancaman bahaya di wilayah DIJ. Khususnya Kabupaten Sleman. Cuaca ekstrem kerap menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat.

Hujan deras disertai angin kencang berpotensi mengakibatkan pohon tumbang. Tak jarang pohon tumbang menimpa rumah warga, sehingga sering kali menimbulkan korban luka, bahkan meninggal dunia.

Demi mencegah risiko bencana tersebut, Anggota Komisi C DPRD Sleman Indra Bangsawan mewanti-wanti masyarakat untuk lebih peduli pada lingkungan sekitar. Pohon-pohon tua perlu dipangkas daun-daun dan batangnya.

Menurut Indra, pemerintah juga perlu menginventarisasi pohon-pohon tua. Terutama di pinggir-pinggir jalan. “Jangan sampai terjadi ada pengendara mobil atau motor tertimpa pohon saat hujan deras. Ini sangat berbahaya,” ungkapnya.

Angin kencang kerap melanda wilayah barat Sleman dan sebagian sisi utara Bumi Sembada. Bahkan, belum lama ini Kapanewon Turi sempat dilanda hujan es seukuran kelereng. Pada saat yang sama, hujan deras disertai angin kencang mengakibatkan pohon tumbang di wilayah Kapanewon Tempel dan Pakem.

Kondisi alam tersebut bukan hanya menuntut pemerintah untuk siap sedia dalam penanganan bencana. Masyarakat pun harus ekstra waspada. Antisipasi dini menghadapi bencana hidrometeorologi lebih dianjurkan. “Saat hujan juga sering terjadi petir. Hindari berteduh di bawah pohon saat ada petir. Warga yang di dalam rumah usahakan matikan dulu perangkat elektronik. Itu demi kebaikan bersama,” imbau Indra.

Anggota Fraksi Golkar itu menambahkan, hujan deras hampir selalu menimbulkan genangan air. Bahkan banjir. Khususnya di wilayah perkotaan dengan drainase buruk. Misalnya di sepanjang Ring Road Utara. Dari Monjali ke timur sampai Kentungan dan kawasan Simpang Empat Condongcatur, Depok. Hampir setiap hujan deras air meluap ke jalananan dan menyebabkan lalu lintas kendaraan terganggu.

Indra menegaskan, antisipasi bencana hidrometeorologi membutuhkan kesadaran bersama.
Untuk mencegah banjir, masyarakat tidak boleh sembarangan buang sampah di sungai. Di sisi lain, petugas Dinas Lingkungan Hidup Sleman harus lebih sering melakukan pengerukan aliran sungai. Terutama sungai-sungai yang menjadi aliran irigasi. Supaya air tidak membeludak ke jalanan dan alirannya tetap lancar ke area persawahan milik petani.

Indra mendorong masyarakat lebih aktif dalam gerakan bank sampah, sedekah sampah, atau sejenisnya. Dengan memilah dan memilih sampah yang masih bisa dimanfaatkan kembali atau didaur ulang. Misalnya bungkus makanan atau minuman berbahan plastik.
Gerakan tersebut selain menambah nilai ekonomi sampah sekaligus mencegah timbulnya pencemaran lingkungan. Lebih dari itu meminimalisasi muatan sampah yang harus dibuang di TPST Piyungan.

Sebagaimana diketahui, TPST Piyungan masih menjadi lokasi pembuangan akhir sampah dari wilayah Sleman, Kota Jogja, dan Bantul. Hingga saat ini kondisi TPST Piyungan sudah over kapasitas. “Intinya, kita harus bersama-sama mencegah risiko bencana seminimal mungkin,” tutur tokoh pemuda asal Kapanewon Turi itu.(*/yog)

Sleman