RADAR JOGJA – Air merupakan sumber kehidupan. Oleh karena itu, perlu dikelola dari hulu. Yakni dengan konservasi sumber daya air, agar kelestarian air terjaga. Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy melalui zoom meeting dalam peringatan hari air sedunia ke-29 yang dilaksanakan di Embung Tambakboyo, Condongcatur, Depok, Sleman (22/3).

Upaya sumber daya air salah satunya dengan penanaman pohon produktif, yang bisa dinikmati manfaatnya oleh masyarakat luas. Selain itu dengan sanitasi bersih yang layak merupakan kebutuhan dasar masnusia. Menjadi salah satu tujuan pembangunan berkelanjutan. Juga memastikan masyarakat mencapai akses universal air bersih dan sanitasi aman dan terjangkau untuk semua.

“Tadi menteri PUPR telah menekankan bahwa masyarakat jangan hanya berpikir untuk memanfaatkan air saja. Tetapi juga harus lebih memberi penekanan pentingnya tanggung jawab menjaga kelestarian sumber daya air. Sehingga keberadaan air bisa betul-betul dinikmati semua umat dan makhluk-Nya,” ujar Muhadjir Effendy saat memberikan sambutan peringatan hari air serentak yang tersebar di 34 provinsi.

Dikatakan, akses terhadap air minum dan pelayanan dasar merupakan prioritas nasional dan sangat erat kaitannya dengan isu pembangunan lain, seperti kesehatan, kemiskinan dan pembangunan pada umumnya. Sanitasi yang buruk dapat mengkontaminasi persediaan air menjadi sumber penyebaran penyakit dan stunting pada anak. Tantangan lain yaitu persediaan akses air minum layak.
Nah, Kabupaten Sleman merupakan wilayah hulu DIJ. Ini juga menjadi perhatian. Selain menanam pohon, upayanya dengan membuat tampungan resapan air. Salah satunya embung untuk menjaga sumber air, mencegah bencana banjir dan kekeringan di wilayah hilir.

Kepala Bali Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak Dwi Purwanto mencontohkan, salah satunya Embung Tambakboyo. Memiliki daya tampung sekitar 500 ribu meter kubik. Dengan luas genangan 7,8 hektare, menjadi sumber resapan bagi wilayah sekitar termasuk Kota Jogja. Upaya ini untuk menyimpan air, sehingga di musim kemarau penghujan tidak kekurangan dan kelebihan air.

“Di Jogja kita lihat Kali Gajah Wong kemarin kan ada banjir. Kita perlu memasukkan air ke dalam tanah. Itu warning bagi kita bahwa perlu sumur-sumur resapan di tiap-tiap rumah dan perlu juga tampungan-tampungan embung seperti ini,” ungkap pria yang akrab disapa Dwi.

Disebutkan, selain Embung Tambakboyo, upaya konservasi air juga dilakukan di Embung Langensari, Kota Jogja. Pihaknya berencana membangun dua embung baru di Sleman lantai dua (Sleman utara). Pembangunan dua embung tahun ini sesuai kontrak akhir November selesai dan sudah diserahkan ke BBWS Serayu Opak. Dengan pagu anggaran satu lokasi Rp 10 miliar.

“Bertepatan hari air sedunia, maka kita tanam 1.000 bibit pohon tersebar di DIJ dan Jawa Tengah,” ungkapnya. Dari jumlah itu, 30 di antaranya, tanaman buah yang ditanam di sekitaran Embung Tambakboyo. Ke depan, selain sebagai area konservasi, menjadi pendukung perkembangan pariwisata DIJ. (mel/laz)

Sleman