RADAR JOGJA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mulai melonggarkan kegiatan kesenian dan kebudayaan. Yang semula kegiatan hanya digelar daring kini boleh digelar luring. Syaratnya dengan persentase audiens 25 persen dari kapasitas ruang atau lokasi.

Hal tersebut, mengacu pada instruksi Mendagri Nomor 6/2021 yang ditindaklanjuti oleh Instruksi Gubernur DIJ nomor 8/INSTR tahun 2021. Selanjutnya, diteruskan Instruksi Bupati Nomor 7/INSTR/2021 bahwa pemberlakuan pengetatan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro kembali diperpanjang, mulai 23 Maret sampai 5 April mendatang. Dimana, salah satu poinnya, pertunjukan seni, sosial, dan budaya dapat digelar langsung dengan mendatangkan audiens.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sleman Harda Kiswaya mengatakan, kegiatan seni, sosial dan budaya yang sifatnya dapat mengundang kerumunan baik indoor maupun outdoor bisa digelar. Kendati begitu, harus menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat juga berdasarkan persetujuan gugus tugas setempat.

Harda mencontohkan, kegiatan di lapangan dengan kapasitas seribu orang, maka diperbolehkan 250 orang. Dengan sistem prokes, cuci tangan, pakai masker jaga jarak, pengukuran suhu, juga pemberlakukan pintu satu arah. “Artinya, bisa memberlakukan semi daring, di luar maksimal audiens,” ungkap Harda di Kantornya, Rabu (24/3).

Terkait pertunjukan luring, pihaknya akan berkoordinasi bersama tim gugus tugas tingkat padukuhan, kalurahan hingga kabupaten. Juga bekerjasama dengn TNI/Polri terkait konsekuensinya. ”Apabila melanggar nantinya akan ada penindakan, meski sanksi berupa teguran. Adanya pelonggaran ini, masyarakat tidak boleh abai tergadap prokes,” tegasnya.

Menanggapi kebijakan tersebut, Seniman Ketoprak Sleman Sugiman Dwi Nurseto mengaku cukup senang dan antusias. Hal tersebut, menjadi semangat baru untuk menggelar pertunjukan walaupun tetap harus melaksanakan prokes. ”Paling tidak sudah ada kesempatan, sudah ada geliat masyarakat menggelar pertunjukan,” ujarnya.

Namun, menurutnya yang terpenting memberi penyadaran edukasi kepada masyarakat. Bagaimana cara menggelar seni pertunjukan dengan prokes yang benar.

Pria yang akrab disapa Giman itu mengatakan, bagi pelaku seni, tidak semua seni pertunjukkan memiliki komponen personel yang sedikit. Misalnya saja ketoprak, jumlah personelnya mencapai 20 sampai 30 orang.

“Nah sementara ini masih terbatas, kalau tembung jowo ngulir budi bagaimana menampilkan keterbatasan itu tidak mengurangi kualitas pertunjukan. Kalau rencana pertunjukan langsung ada tapi masih terbatas,” kata dia. (mel/bah)

Sleman