RADAR JOGJA – Kapanewon Berbah memiliki program Layanan Manten untuk KTP-el dan KK nya (Lama Enaknya). Layanan one day service tersebut, akan memudahkan pasangan baru dalam mendapatkan dokumen kenegaraan.

Panewu Berbah Wildan Solichin menjelaskan, program tersebut telah dilaksanakan sejak 1 Maret. Layanan tersebut, pertama kali digunakan untuk pengantin pertama pada 10 Maret. Usai akad yang dilakukan pukul 10.00, Kapanewon langsung mencetak KTP-el dengan status kawin serta 3 kartu keluarga (KK). Baik KK untuk pasangan, mertua dan orang tua. ”Berjalan lancar karena jaringan juga lancar,” beber Wildan kemarin (18/3).

Untuk bisa mengakses layanan tersebut, kata Wildan, harus dimulai dari proses pendaratan nikah ke KUA Berbah. Diikuti mendaftar perubahan KTP ke Kapanewon. Apabila tidak ada kendala dalam sistem atau data sudah klir, proses tersebut bisa dilalui dalam tiga hari.

Nantinya, pasangan menikah dan dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri, KUA atau pihak gereja akan melapor ke Kapanewon. Setelah itu, dokumen bisa langsung diantarkan ke lokasi pernikahan. Meski lokasi acara akad dan resepsi berbeda, Wildan mengaku akan tetap memberikan dokumen setelah ada laporan.

“Ada yang akad di Berbah tapi resepsi di Prambanan. Dokumen sudah jadi, dan kami minta salah satu staf untuk mengantarkan dokumen kado Lama Enaknya ke lokasi resepsi, di hari itu juga,” kata Wildan.

Wildan menambahkan, program Lama Enaknya dilatarbelakangi keinginan kapanewon agar warga setempat tertib sistem informasi administrasi kependudukan (SIAK). Khususnya untuk mengistimewakan warga yang menikah, baik nikah perdana maupun nikah pascacerai. “Karena setelah menikah harus mengubah status administrasi kependudukan,” lanjutnya.

Meski diperuntukkan bagi warga ber-KTP Berbah, program ini tak menutup kesempatan bagi warga luar Berbah. Program ini menurutnya, menunjukkan efektivitas dan efisiensi layanan dokumen kependudukan bagi pengantin baru. Pihak Kapanewon tidak akan mencetak di luar hari kerja. Atau beberapa hari sebelum sahnya pernikahan. “Kami tak ingin maladministrasi, kalau sudah sah baru kecetak. Kalau nikah Minggu ya tidak bisa dicetak Jumat,” kata Wildan. (eno/bah)

Sleman