RADAR JOGJA – Sempat digeser 100 meter ke arah timur dari titik semula, desain tol seksi III trase Jogja-YIA masih mengenai wilayah Mlangi. Meski telah diubah dari at grade menjadi elevated (melayang), masyarakat Mlangi masih menunggu jawaban terkair desain trase yang diajukan kembali untuk tidak melewati wilayah cagar budaya strategis Masjid Pathok Negoro Mlangi.

Perwakilan warga Mlangi sekaligus Sekretaris Yayasan Nur Iman Mlangi (Konsorsium Pesantren-Pesantren Mlangi, Takmir Masjid Pathok Negoro Mlangi, dan tokoh masyarakat, serta pemuda Mlangi) Muhammad Mustafid menjelaskan, pihaknya tidak pernah menolak adanya pembangunan jalan tol.

Hanya saja, wilayah Mlangi yang merupakan kawasan cagar budaya strategis Masjid Pathok Negoro, diharapkan agar trase tidak melewati kawasan itu.
Adanya penggeseran pertama dari rencana trase awal ke arah timur sejauh 100 meter, kata Mustafid, masih memotong jalur utama kawasan Mlangi. Dan, masih berada di dalam area kawasan cagar budaya strategis Masjid Pathok Negoro Mlangi. Pihaknya kemudian memberikan dua opsi lain untuk penggeseran.

“Masuknya dari T junction ke timur tidak lewat Mlangi. Namun lewat utara dan lewat ring road. Serta opsi dari barat Sungai Bedog,” kata Mustafid kepada Radar Jogja Senin (15/3).

Menurut Mustafid, penggeseran ke arah timur lagi atau masuk ringroad melalui utara di tengah gudang Aveneu yang tidak memotong jalur utama, merupakan opsi yang dimungkinkan secara teknis. Sebagaimana pendapat para ahli transportasi publik yang sempat diundang dan memberikan opini ilmiah secara independen. Baik dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), peneliti, maupun praktisi transportasi.

Pengajuan untuk digesernya trase tol di wilayah Mlangi, lanjutnya, bukan tanpa alasan. Di samping Mlangi sebagai salah satu situs penting Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, juga berdasarkan Peraturan Daerah Istimewa DIJ Nomor 2 Tahun 2017 Pasal 16. Bahwa, pemanfaatan ruang yang diperbolehkan pada satuan ruang strategis Masjid Pathok Negoro antara lain adalah kegiatan ekonomi skala masyarakat, wisata budaya dan sejarah, serta pendidikan dan pengembangan budaya. Dan berdasarkan pada pasal 17, kegiatan membangun bangunan baru dengan arsitektur yang tidak selaras dengan arsitektur kawasan pada satuan ruang strategis Masjid Pathok Negoro, tidak diperbolehkan. “Dan kami masih menunggu jawaban terkait opsi yang kami berikan. Karena sampai saat ini belum ada perkembangan,” bebernya.

Sementara itu, Dukuh Mlangi Achmad Franky Sipahutar menuturkan, pembangunan tol diharapkan berjalan beriringan dengan nilai-nilai luhur wilayah Mlangi. Meski telah digeser ke arah timur, wilayah itu dinilai potensial untuk perkembangan pendidikan di wilayah Mlangi.

Jika nantinya ada trase tol yang membelah sekolah formal maupun non formal di wilayah itu, akan mengurangi estetika dari Mlangi. “Terlebih saat ini wilayah tersebut terkenal sebagai wisata religi. Ada lebih dari 20 pendidikan, baik formal maupun non formal,” kata Franky. (eno/laz)

Sleman