RADAR JOGJA – Gunung Merapi memuntahkan 12 awan panas guguran sejak 5 hingg 11 Maret. Jarak luncur maksimal dalam rentang waktu tersebut sejauh 1.500 meter menuju arah barat daya.

Aktivitas tercatat di seismogram dengan amplitudo maksimal 47 milimeter. Durasi terpanjang mencapai 148 detik pada 7 Maret.

BPPTKG juga mencatat adanya 226 guguran lava pijar dari kubah lava sisi barat daya. Estimasi jarak luncur maksimal mencapai 1.300 meter arah barat daya. Sempat teramati juga guguran kubah lava sisi tengah pada 7 Maret tepatnya 22:18 WIB.

“Berdasarkan catatan ini, aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi. Dominasi kemunculan awan panas dari kubah barat daya. Karena kubah ini letaknya juga di pinggir bibir kawah sehingga rentan runtuh,” jelas Kepala BPPTKG Hanik Humaida dalam keterangan tertulisnya, Jumat (12/3).

Berdasarkan catatan mingguan juga terjadi perubahan morfologi area puncak. Penyebabnya adalah adanya aktivitas guguran dan pertumbuhan kubah lava. Baik daek kubah lava sisi barat daya maupun kubah lava sisi tengah.

BPPTKG juta memperbarui data volume kubah lava Gunung Merapi. Untuk sisi barat daya telah mencapai 785.600 meter kubik. Dengan laju rata-rata pertumbuhan harian sebesar 13.500 meter kubik perharinya.

“Sementara untuk kubah lava sisi tengah masih belum bisa teramati. Hanya saja untuk ketinggian kubah berdasarkan foto dari sektor tenggara menunjukkan ketinggian kubah relatif tetap yaitu sebesar 45 meter,” katanya.

Potensi bahaya Gunung Merapi tak sebatas guguran material dan awan panas. Adapula potensi bahaya sekunder berupa lahar hujan. Fenomena alam ini terjadi akibat hujan di kawasan puncak Gunung Merapi.

BPPTKG melaporkan sempat muncul lahar hujan kemarin, Kamis (11/3). Terjadi pada pukul 12.57 WIB menuju alur Kali Boyong. Sementara untuk intensitas hujan tertinggi terjadi Selasa (2/3). Mencapai 83 milimeter perjam selama 45 menit.

“Hari ini juga terlaporkan munculnya lahar hujan di alur Kali Boyong dengan intensitas dibawah sedang pada pukul 15.30. Lalu lebih sore lagi atau pukul 17.27,  juga mengalir hingga alur Kali Gendol dengan intensitas sedang,” ujarnya.

Atas potensi bahaya ini, Hanik meminta warga tak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Ini karena potensi bahaya akibat erupsi efutif mencakup radius tersebut. Sementara untuk erupsi eksplosif mencapai radius 3 kilometer dari puncak.

“Kalau untuk status masih bertahan di Siaga atau Level III. Warga di sekitar zona bahaya kami minta tetap waspada dan terus memantau perkembangan Gunung Merapi,” pesannya. (dwi/sky)

Sleman