RADAR JOGJA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan adanya peningkatan ketinggian kubah lava Merapi sisi tengah. Tercatat adanya penambahan ketinggian sebanyak 5 meter. Sehingga ketinggian terkini kubah lava sisi tengah mencapai 45 meter.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida menuturkan pertumbuhan kubah lava tersebut bisa teramati dengan mata telanjang. Tepatnya dari sisi tenggara. Pertumbuhan kubah lava terus mendesak dan semakin terlihat dari sisi luar kawah utama.

“Sudah mulai teramati dari sisi Tenggara. Dikuatkan dengan pengamatan secara visual dari hasil foto. Data morfologi pembandingnya adalah dari 5 Maret terhadap data 1 Maret, ada penambahan 5 meter,” jelasnya dalam evaluasi Aktivitas Merapi melalui daring, Jumat (5/3).

Sayangnya hingga saat ini timnya belum bisa memprediksi volume kubah lava tersebut. Upaya pemantauan dengan pesawat nirawak terkendala kecepatan angin. Sehingga pengambilan foto sangat tidak memungkinkan.

Sementara untuk kubah lava sisi barat daya masih terus tumbuh. Tercatat saat ini kubah lava tersebut memiliki volume total 711.000 meter kubik. Sementara untuk laju pertumbuhan harian mencapai 13.900 meter kubik perharinya.

“Upaya menerbangkan drone ke puncak Merapi tidak mudah. Kondisi angin saya ini di kawasan puncak masih sangat kencang. Jadi tidak mudah untuk fokus mengamati di satu titik,” katanya.

Hasil pantauan lain adalah munculnya titik api diam dari kubah lava sisi tengah. Hanik menyebutkan kemunculan titik api diam sudah terpantau sejak 4 Maret. Titik api diam sendiri menandakan bahwa magma sudah berada di permukaan.

Saat mencapai permukaan, titik api diam akan mengalami pembekuan. Hingga akhirnya berubah menjadi kubah lava. Namun apabila langsung meluncur maka menjadi guguran lava pijar.

“Nah masalahnya untuk volume kubah lava sisi tengah ini belum bisa diketahui. Kalau perkiraan saja ya sekitar 200 ribu meter kubik,” ujarnya.

Hanik mengingatkan atas potensi bahaya primer maupun sekunder erupsi Gunung Merapi. Potensi bahaya utama adalah munculnya awan panas hingga hujan abu vulkanik. Termasuk lontaran material apabila terjadi erupsi eksplosif.

Potensi bahaya sekunder adalah terjadinya lahar hujan. Kondisi ini bisa terjadi apabila terjadi hujan lebat di kawasan puncak Gunung Merapi. Lalu meluncur ke sejumlah sungai yang berhulu Gunung Merapi.

“Mulai dari Kali Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng hingga Kali Putih. Wajib diwaspadai jika muncul lahar hujan sewaktu-waktu,” katanya.(dwi/sky)

Sleman