RADAR JOGJA – Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas menjelaskan bahwa hujan es merupakan fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi. Penyebab utamanya adalah kemunculan awan cumulonimbus (Cb).

Lalu terjadi kondensasi di atmosfer yang menyebabkan titik beku atau freezing level. Awan Cb pada titik beku, memiliki bagian atas yang suhunya lebih rendah dari nol derajat Celcius. Sehingga awan tersebut mempunyai peluang sangat besar memproduksi es. Turunnya hujan es seiring dengan kematangan awan Cb.

“Biasanya bersamaan dengan hujan lebat. Sebenarnya di atas itu bentuknya kristal es tapi karena bergesekan dengan udara butirannya jadi mengecil dan inilah yang disebut hujan es,” jelasnya dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (3/3).

Reni juga membagikan indikasi akan terjadi hujan es. Mendekati terjadinya fenomena alam terjadi hujan lebat disertai kilat dan angin kencang berdurasi singkat. Hujan yang awalnya air akan diselingi dengan butiran es.

Turunnya hujan es juga bisa terdeteksi sehari sebelumnya. Berupa udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah. Penyebabnya adalah adanya radiasi matahari yang cukup kuat.

Lalu hari berikutnya, mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan Cumulus. Ciri khas awan ini berwarna putih danĀ  berlapis – lapis. Diantara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu – abu menjulang tinggi seperti bunga kol.

“Tahap berikutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu – abu atau hitam yang dikenal dengan awan Cb. Inilah tanda-tanda akan terjadi hujan lebat. Dalam kondisi tertentu bisa muncul hujan es,” katanya.

Kondisi sebelum muncul hujan es mirip dengan hujan lebat. Berupa pepohonan mulai dari dahan hingga ranting mulai bergoyang cepat. Lalu terasa ada sentuhan udara disekitar tempat berdiri.

“Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan deras tiba – tiba, apabila hujannya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari tempat kita,” ujarnya.

Reni mengimbau agar warga mencari tempat yang aman. Terutama tempat berteduh selama hujan es berlangsung. Mengingat butiran hujan es tetap jatuh dalam ukuran yang lebih kecil.

Diakui olehnya butiran hujan es memiliki potensi bahaya. Mulai dari merusak atap, kaca kendaraan hingga melukai warga yang melintas. Itulah mengapa Reni meminta warga berlindung di tempat yang aman dan kuat.

“Hujan es ini sifatnya sangat lokal dengan radius 2 kilometer. Tapi untuk pertumbuhan awan cumolonimbus memang lebih dari 10 kilometer,” katanya. (dwi/sky)

Sleman