RADAR JOGJA – Harga cabai rawit kian pedas. Rabu (24/2) harga cabai rawir meroket menembus angka Rp 95 ribu per kilogram (kg) di pasar tradisional Kabupaten Sleman. Petani cabai panen untung, lantaran cabai dibeli dengan harga tinggi. Tapi buntung bagi pelaku usaha kuliner dengan ciri khas pedas.

Di tingkat petani harga cabai rawit bisa tembus hingga Rp 50 ribu per kg sampai Rp 84 ribu per kg. Seorang petani cabai rawit di Padukuhan Jabon, Pendowoharjo, Sleman, Sukismo mengatakan, harga cabai, bertahan tinggi selama kurun waktu musim penghujan ini.

Namun, harga semakin pedas sepekan ini. Yang semula di bawah Rp 80 ribu per kg, kini menjadi Rp 84.500 per kg. Menurutnya, harga ini yang paling fantastis semenjak panen pertama hingga 16 kali petik. Sementara sekali petik, dia dapat memperoleh 80 kg sampai 120 kg dengan luasan sekitar 1.800 meter persegi. “Ini pas bejo,” ucap Sukismo saat di ladangnya, Rabu (24/2).

Dia menyebutkan, beberapa faktor penyebab hasil panen cabai miliknya dibeli dengan harga tinggi. Pertama, karena varietas cabai, berkualitas. Kedua, karena dia menjual di tempat pelelangan hasil bumi, bukan pada tengkulak. “Di tempat pelelangan di Ngaglik. Kalau di tengkulak harganya agak jatuh,” kata dia. Lanjut dia, melalui tempat pelelangan, cabai akan didistribusikan langsung ke pabrik ataupun restoran besar.

Menurut dia, menanam cabai di musim penghujan tidak mudah. Kendala yang kerap dihadapi, tanaman cabai mudah terserang lalat buah dan patek ataupun jamur. Jika perawatannya tidak ekstra, maka dapat menjadi penyebab petani gagal panen.

Sementara itu owner Oseng-Oseng Mercon Bu Narti Budi Setiawan justru merasakan dampak negatifnya. Sebagai kuliner yang terkenal dengan rasa pedas, dia harus mempertahankan kualitas. Dengan tidak mengurangi takaran cabai. Dengan risiko tidak mendapat keuntungan dari penjualan. “Jualan laku tapi tidak ada untungnya,” kata dia.

Itu karena dia tetap mempertahankan kualitas masakan. Termasuk jumlah cabai yang dimasak. Meski harganya naik. Dia mencontohkan, selama ini untuk memasak 100 kilogram oseng-oseng mercon, terdiri dari 70 kilogram daging, kikil hingga koyor dan 30 kilogram cabai. Saat harga naikpun, jumlah cabai tak dikurangi. Takarannya sama karena menggunakan timbangan. “Kalau tidak pedas bukan oseng-oseng mercon,” ungkapnya.

Budi yang kini mengelola tujuh cabang Oseng-Oseng Mercon Bu Narti menyebut, harga cabai saat ini bisa menyedot biaya produksi. Karena meski hanya bumbu, tapi harga cabai bisa melebihi komponen pokoknya.
Budi yang selama ini sudah memiliki suplier tetap pun merasakan dampaknya. Karena suplier mengikuti harga pasaran. Harga cabai yang rata-rata Rp 100 ribu per kg kali ini, disebutnya belum setinggi dua atau tiga tahun lalu yang mencapai Rp 140 ribu per kg. Tapi kondisi saat ini sudah berpengaruh ke produksinya. Rerata harga sebelumnya hanya Rp 25 ribu per kg, bahkan paling rendah pernah Rp 10 ribu per kg. “Kalau sekarang Rp 100 ribu per kg, modal bisa tersedot ke cabai,” keluhnya.

Sedang bagi penggemar makanan pedas, Dewi Rani, 35, warga Sleman mengaku, rela mengeluarkan kocek lebih banyak untuk membeli cabai. Jika biasanya ibu rumah tangga ini mengeluarkan Rp 5 ribu sehari untuk membeli cabai. Saat ini bisa sampai tiga kali lipatnya. “Ya, karena aku suka banget makan pedas dan nggak punya tanaman cabai, jadi tiap hari beli,” katanya. (mel/pra)

Sleman