RADAR JOGJA – Penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro pertama di Kabupaten Sleman, berdampak pada turunnya zona merah di kapanewon. Sesuai peta epidemiologi yang dipublikasikan pada 20 Februari, hanya ada satu zona merah yakni Kapanewon Kalasan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo menjelaskan, meski ada pengurangan zona merah saat dilakukan PPKM mikro pertama, tetap harus dilakukan evaluasi dari pelaksanaanya. Setelah dicermati, satu zona merah yang ada di Kapanewon Kalasan dikarenakan adanya klaster karyawan.

Banyaknya perusahaan, membuat pegawai yang ada tinggal di kos atau asrama yang disediakan. Hal tersebut berakibat jika adanya satu kasus positif, akan dengan mudah menyebar ke karyawan lain. Total, ada 118 kasus yang saat ini ditemukan di wilayah Kalasan.

Meski demikian, kasus tersebut tidak hanya berasal dari klaster karyawan dan menyebar di berbagai RT wilayah Kalasan. Sehingga, ditegaskan, zona merah di Kapanewon Kalasan disebabkan karena adanya klaster karyawan. ”Namub menyebar di berbagai RT,” kata Joko Selasa (23/2).

Saat ini, para pasien yang terinfeksi Covid-19 di Kalasan, melakukan isolasi mandiri di rumah maupun di shelter Asrama Haji. Meskipun ada satu zona merah, hingga sekarang belum ditemukan adanya zona merah di tingkat RT di Sleman.

Minggu lalu, lanjut Joko, tingkat RT tidak ada yang berzona merah dan oranye. Hanya saja, ada 608 RT yang berzona kuning. “Pekan ini jumlahnya turun,” ungkapnya.

Sebelumnya, diketahui Pemerintah Kabupaten Sleman telah resmi memperpanjang masa pemberlakuan PPKM mikro, mulai 23 Februari hingga 8 Maret. Secara konsep, masih akan sama seperti PPKM mikro pertama. Diharapkan, adanya PPKM mikro mampu menekan sebaran penularan Covid-19.

Sementara itu, Epidemiolog UGM Bayu Satria Wiratama menyebut, adanya kemungkinan varian atau strain baru Covid-19 muncul di Indonesia. Hany saja, kemungkinan bisa terdeteksinya strain baru Covid-19 kurang begitu besar. Kondisi tersebut dikarenakan kegiatan surveilans genomik SARS COV-2 di tanah air saat ini belum maksimal.

Menurutnya, kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap genomik virus korona baru masih sangat kecil. “Baru sekitar 0,03 persen dari seluruh sampel kami, masih kecil,” beber Bayu.
Potensi munculnya strain baru Covid-19 made in Indonesia cukup besar. Pasalnya, penularan Covid-19 di Indonesia masih aktif dan cukup luas di berbagai wilayah.

Penularan yang terjadi secara terus menerus, membuat potensi virus untuk bermutasi kian besar. Terlebih virus SARS Cov-2 merupakan tipe virus RNA seperti virus influenza yang mudah bermutasi. ”Dampak paling serius adalah kita akan terus-menerus mengembangkan vaksin,” jelasnya.

Untuk menekan transmisi dan mengantisipasi munculnya varian baru virus SARS Cov-2, Bayu menegaskan untuk pemerintah terus meningkatkan strategi 3T, yakni testing, tracing, dan treatment. Sementara masyarakat patuh melaksanakan 5M, yaitu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, mengurangi mobilitas, serta menghindari kerumunan. “Mutasi virus ini bisa terjadi karena 3T dan 5M yang masih lemah. Walaupun mutasi terjadi sifat penularannya sama jadi tetap bisa dicegah dengan 5M,” jelas Bayu. (eno/bah)

Sleman