RADAR JOGJA – Tracing kontak erat kasus Covid-19 di Kabupaten Sleman belum diperluas. Hal ini disebabkan ketersediaan antigen Kit alat swab yang dimiliki masih terbatas.

“Sehingga belum mampu menjangkau 20 – 30 orang kontak erat sebagaimana arahan Menteri Kesehatan,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman Joko Hastaryo, Jumat (19/2). Jangkauan hingga 30 orang hasil tracing tersebut sesuai dengan SE Kemenkes terbaru.

Joko mengatakan, stok antigen kit yang tersisa jumlahnya tak lebih dari 5.000 unit. Itu pun sisa bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk pengungsi Merapi beberapa waktu lalu. Nah, antigen kit hanya digunakan untuk keperluan mendadak. Seperti kegiatan kunjungan publik yang mensyaratkan swab test maupun penelusuran klaster. “Kami belum gunakan untuk tracing versi PPKM Mikro yang menargetkan hingga 30 kontak erat.

Kalau itu diterapkan, belum sampai selesai ya sudah habis kit-nya,” papar Joko.
Ya, diakui Joko Pemerintah Pusat terus mendorong agar swab antigen terus digencarkan. Yang jadi kendala, pemerintah daerah belum menerima antigen kit. Namun, berdasar informasi yang dia terima, rapid test antigen kit sudah tiba di provinsi pada 18 Februari lalu. Dan kemungkinan dalam waktu dekat akan segera didistribusikan ke kabupaten dan kota.

Kendati begitu, Joko belum mengetahui berapa alokasi kit yang akan diterima. Namun, idealnya sekitar 99.000 unit. Itu berdasarkan jumlah angka positif dalam kurun satu bulan terakhir dikalikan 30. Sembari menunggu droping kit dari provinsi, pihaknya tetap mengikuti arahan pedoman Kemenkes revisi kelima. Bahwa, swab test hanya diberikan kepada kontak erat yang bergejala saja. Itu sebabnya, sampel swab yang diperiksa jumlahnya berkurang. Sementara itu kasus positif angkanya berkurang, akhir-akhir ini. “Otomatis kontak eratnya juga sedikit, begitu juga yang bergejala. Semakin sedikit,” terangnya.

Disebutkan, Dinkes hanya melakukan tracing sebanyak 50 sampel per hari. Jumlah ini lebih kecil apabila dibandingkan pada Oktober-November 2020 lalu. Mencapai 200 sampel per hari. Selanjutnya, intensitas tracing mulai berkurang sejak Desember 2020. Setelah diberlakukan pengetatan. Disamping itu, Dinkes Sleman juga pernah mendapatkan teguran dari pemerintah pusat karena dinilai terlalu gencar melakukan tracing. Menjadi penyebab angka kasus turut meningkat.

Sementara, berdasarkan data tim gugus tugas Covid-19 Kabupaten Sleman, perkembangan angka kasus Covid-19 diliat dari grafiknya, cenderung fluktuatif menurun dibandingkan Januari lalu. Juru bicara gugus tugas Covid-19 Sleman Shavitri Nurmala Dewi menyebut, data terakhir perkembangan Covid-19 per Sabtu, 20 Februari, angka harian kasus terkonfirmasi positif Covid-19 ada 81 dari total kasus 9.696. Sementara tingkat kesembuhan ada 49 kasus dari total 8.398. “Kalau total yang sudah dilakukan skreening ada 43.442,” sebutnya. (mel/pra)

Sleman