RADAR JOGJA – Pelonggaran jam operasional berdagang dalam pengetatan terbatas kegiatan masyarakat (PTKM) skala mikro dinilai mampu meningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat. Khususnya pedagang malam.

Salah satunya dirasakan Wagiman. Pedagang sate ayam di wilayah Minggir, Sleman. Sejak jam operasional jualan dinaikkan, dari pukul 20.00 menjadi maksimal pukul 21.00, pembeli mulai meningkat. Wagiman yang hanya mengandalkan jualan offline ini mengaku, dapat menghabiskan lebih dari 50 porsi sekali berjualan. Jika dibandingkan sebelumnya, dibawah 30 porsi. “Rata-rata 25 porsi. 30 itu maksimal,” kata Giman, pria berusia 55 tahun, Minggu (21/2).

Padahal, dia berjualan lebih dini dari biasanya, pukul 16.00. Berjualan keliling menelusuri kampung. Menurutnya, selama PTKM diperpanjang menjadi skala mikro, jumlah pelanggan pun bertambah. Aktivitas malam juga sedikit meningkat. “Yang biasanya sepi, mulai ada satu dua orang yang keluar. Biasanya enggak nyampe Rp 100 ribu hasilnya (omset bersih, red), sekarang bisa hampir tiga kali lipatnya,” ucapnya.

Meski begitu, Giman berharap, pelonggaran kegiatan ekonomi terus ditambah. Agar perekonomian lekas pulih seperti sedia kala. Sebab, tak sedikit pedagang ataupun pelaku usaha yang tertekan dengan kebijakan pengetatan. Khususnya mereka yang hanya mengandalkan jualan langsung dengan pangsa pasar malam hari.

Sebelumnya, Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman Harda Kiswaya menilai, pemberlakuan PTKM skala mikro dinilai efektif. Selain menekan angka persebaran Covid-19 juga mampu meningkatkan nilai perekonomian warga. Kegiatan ekonomi jalan terus. “Pelonggaran (jam maksimal operasional, red) berdasarkan pengamatan saya rasa efektif,” ucapnya.

Pakar Ekonomi UMY Ahmad Ma’ruf menilai dampak PTKM skala mikro dari segi ekonomi memiliki pemaknaan berbeda. Secara umum, PTKM membatasi waktu bertransaksi dan berkegiatan ekonomi menjadi lebih pendek. Sehingga kehilangan nilai ekonomi.

Kegiatan sosial yang berdampak pada ekonomi seperti halnya hajatan di tengah masyarakat. Karena ada prosedur pengetatan, otomatis berdampak pada sektor tertentu. Misalnya, pada hiburan musik, catering, persewaan dekor dan lain-lain. “Secara makro, saya menduga dampak PTKM ini recovery ekonomi menjadi lebih lambat dan lebih berat. Namun, kesehatan juga penting,” ucap Ahmad, Minggu (21/2).

Bagaimana strategi agar ke duanya berjalan beriringan? Ahmad menyebut, dibutuhkan rem dan gas antara ekonomi dan kesehatan. Artinya, ke duanya harus dilakukan dengan baik. Kendati begitu, berdasarkan fakta lapangan yang didapatkan, pengetatan ini tidak merata. Ada zona tertentu yang lebih ketat. Ada pula yang cendrung longgar.

Dia mencontohkan, seperti halnya pedagang pasar yang berdesakan. Dengan menetapkan prokes kesehatan kegiatan ini diperbolehkan. Sementara itu kegiatan pertunjukan, jasa hiburan masih belum diizinkan. “Nah, ini juga dapat menjadikan kecemburuan di masyarakat,” ujarnya. (mel/pra)

Sleman