RADAR JOGJA – Di rumah semi permanen seluas 510 meter persegi, Supahargio, 79, dan keluarganya tinggal. Lantainya masih tanah, dinding dan atapnya dari asbes. Mereka pun hendak mendapatkan bantuan rumah tidak layak huni (RTLH) dari pemerintah.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja

Jika hujan deras, percikan air kerap masuk melalui celah dinding yang tak tertutup rapat. Atap seng yang bocor, terpaksa ditutup spanduk bekas, agar air tidak menetes ke bawah. Rumahnya sederhana. Hanya ada sebuah TV tua sebagai pelengkap hiburan keluarga itu.

“Rumah ini ditempati lima orang. Bapak, saya, istri saya, dan kedua anak saya,” ungkap Bambang, 50, anak ke empat Suparhagio saat ditemui di kediamannya, Kaliurang Timur, Hargobinangun, Pakem, Rabu (17/2).

Dikatakan, kondisi dua tahun ini sudah lebih baik dibandingkan puluhan tahun sebelumnya. Mereka tinggal di kandang kayu. Dindingnya penuh celah. “Kalau malam dingin sekali,” tuturnya.

Lantas dua tahun lalu dia mendapat bantuan warga setempat, termasuk keempat anak-anaknya yang juga tinggal di sekitar kediaman Suparhagio. Dengan bantuan swadaya dia dan keluarganya dibangunkan gubuk semi permanen. Pondasi yang sebelumnya dibuat, kini dipasangi dinding semi permanen. “Lumayan, bisa lebih nyaman dari sebelumnya,” tambah Suparhagio.
Dampak pandemi Covid-19 sangat dirasakan Suparhagio dan Bambang.

Suparhagio yang tiap harinya bekerja mencari kayu, sementara melibur. Sebab, pelanggannya (pembeli kayu, Red) pembuat jadah tempe, sedang libur. Karena Kaliurang sepi kunjungan wisata. “Karena nggak pasok, jadi juga libur,” terang lansia berusia 78 itu.

Sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, selain mengandalkan jatah dari anak dia membersihkan makam di tiga lokasi agar mendapatkan upah. Pekerjaan itu diberikan oleh dukuh setempat. “Upah dari bersih-bersih makam kadang dapat Rp 50 ribu. Kadang Rp 100 ribu. Tapi tidak setiap hari, tergantung permintaan,” ujarnya.

Demikian juga Bambang. Dia tiap harinya bekerja sebagai buruh sopir jip. Selama tiga bulan terakhir tak ada pemasukan. Sebab, jip tempatnya bekerja, libur beroperasi. Jika harus beralih profesi dengan beban berat, ia tak mampu. Lantaran mengidap penyakit jantung.

“Kami hanya mengandalkan bantuan program keluarga harapan (PKH) Rp 200 ribu. Untuk beli beras dan kebutuhan lainnya,” terangnya. Untuk pemeriksaan kesehatan, dia di back-up dengan bantuan dari BPJS Kesehatan.
Keduanya bersyukur, pengajuan bantuan pada 2020 sudah terwujudkan. Nilainya Rp 15 juta dalam bentuk uang. Rencananya akan digunakan untuk renovasi bagian dinding rumah. (laz)

Sleman