RADAR JOGJA – Sebanyak 13 kapanewon di Sleman akan menerapkan program Si Wolbachia, Nyamuk Aman Cegah DBD di Sleman ( Si Wolly Nyaman) secara serentak. Program tersebut adalah hasil kerjasama antara Pemkab Sleman dengan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM dengan didukung oleh WMP Jogjakarta dan Yayasan Tahija.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo menjelaskan, program Si Wolly Nyaman akan diintervensi ke 13 kapanewon di Sleman. Mulai dari Depok, Berbah, Kalasan, Ngaglik, Pakem, Gamping, Godean, Seyegan, Mlati, Tempel, Sleman, Ngemplak dan Prambanan. Selain itu, ditambah lagi 23 Puskesmas yang membawahi kapanewon-kapanewon tersebut.

Disebutkan, Sleman akan menjadi wilayah pertama dalam implementasi program ini. Tidak hanya untuk menekan kasus, pelepasan nyamuk ber-wolbachia diharapkan menjadi role model bagi wilayah lain.
Nantinya, pelepasan nyamuk ber-wolbachia akan dilakukan dalam bentuk telur yang tersimpan dalam ember nyamuk. Ember nyamuk ini, nantinya dititipkan di rumah warga yang menjadi orang tua asuh nyamuk.

”Nyamuk ber-wolbachia diharapkan kawin dengan nyamuk lokal. Sehingga semua keturunan nyamuk ber-wolbachia dan mengurangi penularan DBD di Sleman,” jelas Joko Selasa(16/2).

Pogram Si Wolly Nyaman, kata Joko, telah terintegrasi dengan program pengendalian DBD yang sudah berjalan. Meski di Sleman nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia akan dilepaskan, Joko mengimbau agar masyarakat tetap melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Dengan cara 4M plus, yakni menguras, menutup, mengubur, dan memantau, serta menjaga perilaku hidup bersih dan sehat.

Disebutkan pada 2020, ada kenaikan kasus DBD di Sleman. Jika di tahun 2019 hanya ditemukan 728 kasus, di tahu 2020 kasus DBD mencapai 810 kasus. Adanya kenaikan jumlah kasus DBD ini, Joko menilai penerapan teknologi nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia sangat dibutuhkan.

Pasalnya, secara ilmiah, penerapan program tersebut telah menunjukkan hasil yang baik dalam percobaanya. Wolbachia juga dinilai efektif dalam menurunkan penularan virus dengue. “Terbukti menurunkan 77 persen kasus DBD dari hasil efikasi di Kota Jogjakarta,” ungkap Joko.

Sementara itu, Bupati Sleman Sri Purnomo menyatakan, program Si Wolly Nyaman bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pengendalian DBD, dan meningkatkan sumber daya kesehatan. Nantinya, implementasi teknologi Wolbachia ini akan diterapkan di 13 Kapanewon, 39 Kalurahan, dan kurang lebih 588 Padukuhan. “Diketahui, ditemukan sebanyak 810 dengan kematian dua kasus di rumah sakit, di Sleman,” beber SP.

Peneliti WMP Riris Andono Ahmad menyebutkan, Kabupaten Sleman menjadi daerah pertama yang menjadi area implementasi, setelah tahapan penelitian selesai. Teknologi wolbachia dinilai aman, karena bakteri alami yang dapat ditemukan pada 50 persen serangga ini hanya dapat hidup di dalam sel serangga. Selain itu, nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia yang disebarkan sudah dipastikan bebas dari DBD dan chikungunya. “Sehingga efektif menurunkan penyebaran DBD dan penyakit lain yang dibawa oleh nyamuk,” kata laki-laki yang kerap disapa Doni. (eno/bah)

Sleman