RADAR JOGJA – Dulu, sewaktu penjajahan sebuah mata air (tuk) timbul di sudut bangunan pabrik nilo atau pewarna tekstil milik Belanda. Lalu, oleh masyarakat sekitar dinamai Sendang Mbabrig. Isno Wiharyono, 76, hingga kini terus merawat sendang itu.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja

Matanya sayu, kulitnya sudah kriput, tapi bicaranya lugas dan tubuhnya masih kuat. Pria kelahiran 1945 ini menyambut hangat kehadiran Radar Jogja. Mengetahui maksud kedatangan, Isno lantas menunjukkan mata air yang dinamai Sendang Mbabrig itu. Lokasinya tak jauh dari kediamannya. Sekitar 30 meter dari rumahnya. Tepatnya di Dusun Nglebeng RT l, Margorejo, Tempel.

“Dulu hanya tuk, tapi dua tahun lalu dibuat pondasi ini,” ungkap Isno menunjukkan Sendang Mbabring Tirtodipuran. Sendang itu berada di betengan pondasi berukuran sekitar 2 x 3 meter. Dengan kedalaman sekitar 2 meter. Airnya jenih dan tampak segar. Tampak ikan-ikan kecil berenang di antara celah-celah bebatuan.

Tuk ini pernah dijadikan sumber air minum bagi warga sekitar. Terlebih jika musim kemarau, warga berbondong-bondong mengambil air dari sendang ini.
Lalu dia menunjuk kebun salak di sisi selatan. Di area kebun salak itulah saat penjajahan Belanda hingga Jepang, pabrik nilo berdiri. Isno menyebut, luasnya sekitar 500 meter. “Dulu saya ingat betul, tempat ini ramai londo (Belanda, Red) dan Jepang. Bahkan mereka naik pesawat. Tingginya sepohon kelapa,” ingat Isno.

Pria dengan enam cucu itu juga menyebut, di dusunnya terdapat enam mata air lainnya. Lokasinya tersebar. Tapi tak memiliki nama. “Nah, tuk ini yang sumbernya paling besar,” ungkapnya.

Sadar pentingnya tuk bagi kehidupan sekitar, sendang ia rawat. Hampir tiap hari sampah-sampah dibersihkan. Kendati begitu, sumber air tak selancar dulu. Sebab, pembuatan sumur pam di sekitar sendang, menyedot sebagian sumber air. “Harapannya, jangan sampai mata air ini rusak. Kita lestarikan ke anak cucu. Sesuai namanya, tirtodipuran,” ujar Isno. (laz)

Sleman