RADAR JOGJA – Gunung Merapi mengalami sebelas kali guguran lava pijar. Kejadian itu terjadi kemarin pada (14/2) pukul 00.00 hingga 06.00. Jarak luncur maksimum guguran lava pijar itu tercatat mencapai 800 meter ke arah barat daya.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan, secara visual asap kawah Gunung Merapi tidak teramati karena tertutup kabut. “Teramati ada sebelas kali guguran lava pijar di Gunung Merapi,” ujar Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida.

Berdasarkan data kegempaan di Gunung Merapi, guguran sebanyak 35 dengan amplitudo 3 mm-22 mm dan durasi 13 detik-100 detik. Hybri per fase banyak jumlah 7 dengan amplitudo 5 mm-16 mm, S-P : 0.3 detik-0.5 detik dan durasi 6 detik-9 detik. “Tingkat aktivitas Gunung Merapi masih ditetapkan level III (Siaga),” tegasnya.

Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi erupsi eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Masyarakat diimbau agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya dan mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.

Penambangan di alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan. “Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka status aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali,” tandas Hanik. (kur/bah)

Sleman