RADAR JOGJA – Dinas kesehatan (Dinkes) Sleman bersama puskesmas melakukan pemetaan zona Covid-19 terhadap 7.000 RT di Sleman. Hasilnya, belum ditemukan wilayah RT yang masuk ke dalam zona merah. Meski begitu, pemkab akan terus memperbarui setiap zona dalam seminggu sekali.

Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo menjelaskan, pemetaan RT ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari kebijakan pembatasan skala mikro. Dari seluruh RT yang ada, hanya ditemukan 1 RT berzona oranye. Selanjutnya, ada 478 RT zona kuning, dan sisanya adalah RT dengan zona hijau. ”Kalau dengan kriteria pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro tidak ada RT zona merah di Sleman,” jelas Joko Kamis (11/2).

Kriteria RT bisa dikatakan sebagai zona merah jika ada lebih dari sepuluh kasus positif. Sedangkan zona oranye ditentukan dengan adanya 6-10 kasus positif. Sedangkan RT dikatakan zona hijau jika dalam 7 hari terakhir tidak ditemukan kasus positif Covid-19. “Makanya harus diperbarui setiap minggunya,” kata Joko.

Saat ini, kapanewon di wilayah Sleman masih didominasi oleh zona oranye. Dari 17 kapanewon yang ada, 12 diantaranya dinyatakan sebagai zona oranye. Sisanya adalah kapanewon berzona merah yaitu Moyudan, Tempel, Pakem, Kalasan dan Prambanan. “Adanya PPKM mikro mudah-mudahan lebih efektif lagi,” lanjut Joko.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Joko Supriyanto menuturkan, dilaksanakannya PPKM mikro juga dibarengi dengan adanya pembentukan posko di tingkat padukuhan. Hal ini dilakukan untuk pelaksanaan PPKM mikro bisa berjalan dengan baik. “Di tingkat Padukuhan di bentuk posko, minimal tingkat Kalurahan,” tutur Joko.

Menurut Joko, selain di padukuhan, tingkat RT maupun RW juga diharapkan menerapkan pembatasan yang lebih ketat. Ketika nanti ada potensi kerumunan, diharapkan bisa dilakukan pencegahan. “Nanti diharapkan di tingkat RT dan RW ada pembatasan yang lebih nyata, kerumunan, dikurangi di tingkat bawah,” bebernya. (eno/bah)

Sleman