SLEMAN – Di tengah pandemi Covid-19, warga Dusun Plempoh, Padukuhan Dawung, Bokoharjo, Prambanan bergeliat menghidupkan kembali Desa Wisata Plempoh. Warga setempat mendirikan kios kuliner berupa kedai kopi rakai pikatan dan mengembangkan rintisan Kampung Angrek.

Pengembangan wisata ini mulai dilakukan Desember 2020 lalu. Ketua Pengelola Desa Wisata Plempoh Nawanto mengatakan, pengembangan wisata ini memanfaatkan program dana hibah pariwisata senilai Rp 67 juta dari pemerintah pusat. Sebelumnya, pihaknya mengajukan proposal pengembangan wisata.

Dijelaskan, Bokoharjo berada di wilayah strategis diantara kawasan cagar budaya. Sebelah Utara ada Candi Prambanan. Sedangkan Selatan, Candi Boko, Candi Ijo dan Tebing Breksi. Selain itu untuk menyambut jalan tol Solo-Jogja. ”Kami hendak menangkap peluang ini,” ungkap Nawanto Indrio, Selasa (9/2).
Dijelaskan, Desa Wisata Plempoh terbentuk pada 2009 lalu dan mengalami dua kali vakum. Pada 2013, memperoleh dana hibah pariwisata, namun eksistensinta tak berlangsung lama.

Nah, pada 2020 pengelola kembali menghidupkan dan mengubah konsep wisata. Yang dulunya memiliki keunggulan kesenian Srandul, karawitan, seni batik tulis pikatan dengan kuliner sambel plempoh dan wedang bandung. ”Sekarang dikonsep lebih fresh,” jelasnya.

Sebulan berjalan, kedai kopi yang dirintis membuahkan profit. Bahkan warga yang berkecimpung di kedai kopi yang dikelola pemuda dusun tersebut semakin banyak. Selain terlibat langsung dalam pengelolaan, ada pula yang menitipkan hasil kerajian usaha mikro kecil menengah (UMKM) setempat. “Kami juga ada atraksi musiknya, dari kalangan pemuda,” imbuh pengelola lain, Guntur. Pengembangan wisata ini tetap mentaati aturan prokes.

Profit kedai kampung ini sebagian digunakan untuk kas kampung juga pengembangan detinasi wisata lainnya. Adanya kedai ini diharapkan menjadi ladang maupun wadah menjual hasil umkm warga setempat. Demikian kampung anggrek yang kini berjalan 70 persen. Diharapkan, dapat menumbuhkan, menjadi wisata alternatif sekaligus upaya konservasi alam.
“Apalagi Bokoharjo merupakan wilayah exit toll. Harapannya kedepan menjadi peluang besar bagi warga. Warga dapat mengelola sendiri kawasan strategis ini sehingga tidak perlu ada investor,” pungkas Nawanto. (mel/bah)

Sleman