RADAR JOGJA-Warga Dusun Turgo memutuskan pulang setelah dua pekan berada di barak pengungsian Purwobinangun. Pertimbangannya adalah menurunnya aktivitas vulkanik Gunung Merapi. Selain itu juga radius tempat tinggal warga yang masih aman dari radius potensi bahaya erupsi Gunung Merapi.

Lurah Purwobinangun Heri Suasana menuturkan kepulangan 137 warga atas keinginan sendiri. Pihaknya sebatas memfasilitasi bersama BPBD Sleman. Walau begitu tetap ada pertimbangan dan kajian terkait kebijakan pemulangan warga.

“Kami serahkan ke warga karena warga ini kah sudah hafal dan sudah lama tinggal di sana (Dusun Turgo). Jadi kami ikuti saja kalau memang warga sudah merasa nyaman pulang ke rumah masing-masing ya diantar pulang tapi kalau warga masih khawatir dan ingin bertahan di barak ya kami ikuti,” jelasnya ditemui di barak pengungsian Purwobinangun, Selasa (9/2).

Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Kaitannya adalah potensi bahaya erupsi Gunung Merapi. Baik atas jarak maupun arah luncuran guguran material vulkanik.

Pertemuan turut melibatkan sesepuh dan tokoh warga Dusun Turgo. Heri meminta warga tetap menguatkan mitigasi terhadap erupsi Gunung Merapi. Walau saat ini masih dalam jarak aman, bukan berarti menjamin keamanan warga.

“Kami diskusi dan minta masukan dari warga dan tokoh-tokoh masyarakat. Jadi ada kesepakatan kalau sore warga kelompok rentan tidur di SD Sanjaya Tritis,” katanya.

Heri meminta warga menggiatkan ronda malam. Fungsinya untuk mengawasi kondisi khususnya aktivitas vulkanik Gunung Merapi. Sehingga dapat bertindak cepat apabila potensi bahaya terjadi sewaktu-waktu.

Tak hanya ronda malam, Heri juga mendorong tim mitigasi bersiap diri. Perannya melakukan pengarahan terhadap jalur dan titik evakuasi. Termasuk memeriksa setiap kediaman warga untuk memastikan tak ada yang tertinggal.

Sementara untuk fasilitas, telah ada 3 early warning system (EWS) terpasang di wilayah Dusun Turgo. Meliputi peringatan dini bagi datangnya awan panas dan lahar hujan. Selain itu juga ada pengeras suara. Fungsinya sebagai corong informasi apabila potensi bahaya terjadi sewaktu-waktu.

“Sudah ada tim sapu bersihnya warga sana, tim ini selalu memantau Merapi dan rumah warga yang ditempati untuk tidur. Jadi misal ada apa-apa warga sudah tahu dan bisa gerak cepat. Baik aktivitas Merapi atau Kali Boyong,” ujarnya.

Walau telah tak berpenghuni, Heri memastikan barak pengungsian Purwobinangun tetap ada. Termasuk seluruh fasilitas penunjang didalamnya. Keberadaan barak ini dipertahankan selama status Merapi belum turun.

“Barak tidak dibongkar karena status masih level III jadi masih belum berani membongkar semua. Tunggu nanti selanjutnya. Mudah-mudahan saja nanti setelah ini tidak ada pengungsian lagi tapi kalau ada semua tetap siap,” katanya.(dwi/sky)

Sleman