RADAR JOGJA – Gunung Merapi dilaporkan memiliki kubah lava baru yang terletak di tengah kawah sisi tenggara. Sebelumnya gunung api setinggi 2.930 meter di atas permukaan laut itu juga memiliki kubah lava yang berada di tebing barat daya. Dengan demikian, Merapi saat ini memiliki dua kubah lava.

Menyikapi hal itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Daerah (BPBD) DIJ Biwara Yuswantana mengungkapkan, saat ini radius potensi bahaya Merapi belum mengalami perubahan. Yakni di dalam radius 5 km dari puncak gunung. Hal itu membuat zona bahaya erupsi Merapi juga masih tetap.
“Ada kubah lava kembar di barat dan timur, yang timur masih embrio atau kecil. Artinya rekomendasi daerah ancaman masih tetap. Permukiman di luar 5 km aman,” kata Biwara kepada Radar Jogja Minggu (7/2).

Dikatakan, sejauh ini masih ada satu barak pengungsingan yang aktif. Yakni Barak Pengungsian Purwobinangun, di Kapanewon Pakem, Sleman. Barak itu dimanfaatkan untuk menampung masyarakat di Padukuhan Turgo.
Menurut Biwara, lokasi Padukuhan Turgo sebenarnya berada di luar radius bahaya Gunung Merapi. Jaraknya dengan puncak sekitar 6,5 km. Namun penduduk memilih untuk mengungsi karena adanya rasa khawatir terhadap erupsi Merapi.

“Ini persoalan psikologis dan sosial, harapannya BPBD kabupten bisa mengkondisikan itu. Jika ada kekhawatiran kemudian dievakuasi, kalau ada yang mau mengungsi harus dilayani. Tapi rekomendasi itu masih tetap,” tambahnya.

Saat ini terdapat 14 barak pengungsian yang bisa diaktifkan sewaktu-waktu. Seluruhnya tersebar di beberapa kecamatan yang melingkari Merapi. Ketika disinggung potensi bahaya lahar dingin, Biworo memastikan fenomena alam itu belum berpotensi menimbulkan bahaya kepada masyarakat setempat.
“Lahar dingin ditentukan curah hujan dan material di atas Merapi. Material belum banyak dan sungainya sudah dalam-dalam. Potensi untuk lahar dingin untuk meluap itu relatif kecil,” jelasnya.

Sementara itu Minggu (7/2) pagi tercatat Merapi 10 kali meluncurkan guguran lava pijar dengan jarak luncur maksimum satu kilometer. Seperti yang dilaporkan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta.

“Teramati guguran dan guguran lava pijar 10 kali dengan jarak luncur maksimum 1.000 meter ke arah barat daya atau hulu Kali Krasak dan Boyong,” kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida mengenai kondisi Merapi selama pengamatan dari pukul 00.00 sampai 06.00.

Selama periode pengamatan itu, menurut BPPTKG, Gunung Merapi juga mengalami 27 kali gempa guguran dengan amplitudo 3-11 mm selama 11.4-52.2 detik dan dua kali gempa fase banyak dengan amplitudo 6 mm selama 7.6-9.4 detik. (kur/laz)

Sleman