RADAR JOGJA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman meminta masyarakat tidak perlu cemas dan takut berlebihan mengunjungi fasilitas kesehatan (faskes) di tengah persebaran Covid-19. Terutama ibu hamil yang termasuk kelompok rentan.

Pengelola Analis Kesehatan Ibu dan Anak Dinkes Sleman Amalia Rizqi mengatakan, selama pandemi ini terjadi penurunan pemeriksaan ibu hamil di faskes. Padahal, pemeriksaan rutin tiap trimester harus dilakukan. Untuk menghindari fatalitas kandungan.

Berdasarkan data dari total 11.978 angka kehamilan selama pandemi 2020 (Maret-Desember), tercacat jumlah ibu hamil yang memeriksakan diri hanya 615 di trimester pertama. Sisanya, baru memeriksakan diri di trimester berikutnya. ”Jadi banyak yang telat memeriksakan diri,” kata Amalia di kantornya, Rabu (3/2).

Hal ini, dipicu adanya rasa ketakutan dan kekhawatiran mengunjungi faskes. Dikatakan, deteksi awal kehamilan sangatlah penting. Jika luput dilakukan, dikhawatirkan berpengaruh pada kandungan. Karena, ibu dan janin tidak terskrining dengan baik. Selain itu, pemeriksaan juga sebagai edukasi. Misalnya, ibu hamil memiliki riwayat hipertensi, diabetes, jantung dan lain-lain tentu ada perlakuan berbeda.
“Nah, jika tidak terdeteksi dengan baik. Dapat berpengaruh pada proses persalinan,” jelasnya.

Misalnya di masa persalinan terjadi eklamsia atau komplikasi kehamilan yang ditandai tekanan darah tinggi dan kejang sebelum, selama dan setelah persalinan. Karena belum diskrining, tentunya menjadi kendala dokter melakukan penanganan.

“Kalau harus menunggu skrining sedangkan ibu butuh penanganan cepat. Ini yang kerap dijumpai sehingga menyebabkan kematian ibu (hamil, red),” terangnya.

Disebutkan, selama 2020 terdapat delapan kasus kematian ibu (AKI) di Sleman. Beberapa di antaranya, disebabkan faktor riwayat penyakit bawaan ibu. Salah satu hipertensi dan minimnya skrining awal.
“Pandemi ini ibu hamil terpapar Covid-19 masih tinggi. Nakes harus agresif,” pesannya.

Demikian untuk menekan AKI selama pandemi, pantauan ibu hamil terus digencarkan. Kader kesehatan tingkat kalurahan hingga padukuhan diimbau mengintensifkan pemantauan. Pihaknya pun juga menyediakan layanan konsultasi online di setiap faskes.

Sementara itu, Dewi, 30, seorang ibu hamil mengaku, takut mengunjungi faskes hingga usia kehamilan memasuki delapan bulan. Dia baru memeriksakan diri sekali di trimester pertama. “Ya, perasaan takut ada. Tapi tetap menjaga kandungan, biasa saja kaya pas mengandung anak pertama,” kata warga Kapanewon Mlati tersebut. (mel/bah)

Sleman