RADAR JOGJA- Fenomena tanah bergerak mengancam 6 KK  yang tinggal di bawah tebing Dusun Losari I  RT 04 RW 06, Kalurahan Wukiharjo, Kapanewon Prambanan,Sleman. Pemerintah desa setempat belum bisa mengambil tindakan atas kejadian tanah bergerak.

Pertimbangan utama adalah masih adanya aktivitas pergerakan tanah. Tindakan penanganan dikhawatirkan akan menimbulkan longsoran dan tanah bergerak susulan.

Kejadian tanah bergerak di Dusun Losari I terlaporkan Rabu (3/2) lalu. Imbas dari kejadian ini adalah longsoran material yang menjorok ke pemukiman warga. Selain itu juga merusak jalan akses warga.

“Dusun Losari I tepatnya di RT 4, ada retakan tanah selebar 30 meter dan ketinggian 6 meter. Tanah bergerak menimpa jalan tapi juga mengancam jiwa warga. Ada 3 rumah dibawahnya dengan penghuni 7 jiwa,” jelas Carik Kalurahan Wukirharjo Giyanto ditemui di Kantor Kalurahan Wukirharjo Prambanan, Jumat (5/2).

Langkah antisipasi sementara adalah membuat parit darurat. Fungsinya untuk mengalirkan air yang berasal dari sumber mata air. Diketahui bahwa retakan dan longsor tanah tepat berada di jalur mata air. Inipula yang diduga membuat konstruksi tanah menjadi labil.

Tak hanya itu, pihaknya juga memasang penanda. Berupa bilah bambu dengan tali rafia berwarna merah. Penanda ini dipasang di lokasi munculnya retakan dan longsoran tanah.

“Tanahnya masih labil, kami belum berani ambil tindakan. Takutnya kalau dieksekusi malah muncul longsor susulan. Kami juga sudha pasang patok bambu sebagai penanda kalau ada pergerakan,” katanya.

Kejadian longsor dan tanah gerak tak hanya di Dusun Losari I. Adapula kejadian di RT 4 Dusun Watukangsi. Di lokasi ini, material tanah longsor hingga halaman rumah warga.  Langkah antisipasi telah dilakukan dengan pembangunan talud.

“Waktu kejadiannya juga bersamaan, karena kebtulan saat itu hujannya deras, lama dan lebat. Sekitar 3 jam dari jam 3 sore sampai jam 6 sore. Tapi tidak ada korban jiwa dari dua kejadian ini,” ujarnya.

Giyanto mengakui daerahnya memiliki resiko tinggi pergerakan tanah dan longsor. Potensi bahaya semakin meningkat saat memasuki musim penghujan. Terlebih intensitas hujan cukup lama dan lebat. Sehingga membuat konstruksi tanah menjadi labil.

Kondisi yang lebih parah terjadi di penghujung 2017. Kala itu beberapa rumah warga di Dusun Losari II tertimbun material tanah longsor. Merupakan imbas dari kemunculan Badai Tropis Cempaka.

“Kejadian 2017 itu sampai ada pemindahan hunian warga. Tepatnya 2 kepala keluarga dipindah ke tempat yang lebih aman. Lokasinya sangat berbahaya karena dibawah tebing tanah,” katanya.

Upaya mitigasi telah dilakukan hingga kepada seluruh warga. Berupa keterlibatan dalam penanganan bencana di setiap wilayah. Selain itu adapula pemasangan 6 early warning system (EWS) di setiap Padukuhan.

“Antisipasi terkuat itu biasanya pasca musim kemarau. Biasanya tanah retak karena panas lalu terisi air. Ini potensi bahayanya tinggi. Jadi selain EWS kami juga meminta warga tetap waspada lebih dini lagi,” ujarnya.

Warga Dusun Losari I Giyono menuturkan awalnya tak ada tanda-tanda tanah bergerak. Hanya saja sebelum kejadian sempat hujan deras. Rumah pria berusia 55 tahun ini sendiri tepat berada di depan tebing yang longsor.

“Tidak ada tanda-tanda atau suara, tahu-tahu sudah longsor. Saat itu hujan deras tidak tahu kapan longsornya. Ya was-was juga karena baru kali ini ada kejadian tanah longsor,” katanya.(dwi/sky)

Sleman