RADAR JOGJA – Sekilas kerajinan karya Sri Rahayu, seperti kerajinan rotan yang teranyam dan tersusun dengan rapi. Namun, siapa sangka bahwa karya-karyanya sebenarnya terbuat dari koran bekas. Bagaimana proses kreatif yang dilakukan oleh Sri?

MEITIKA CANDRA LANTIVA, SLEMAN, Radar Jogja

Tangan Sri Rahayu terlihat luwes mengenam gulungan koran bekas. Dia mulai menyilangkan beberapa gulungan koran yang hendak dibuat reng anyaman. Jari kirinya menumpu titik temu gulungan. Lalu tangan kanannya menggapai lem kayu hendak mengoleskan ke bagian tengah tumpuan gulungan tersebut.
“Bagian pertama begini. Ini konstruksinya,” ungkap Sri sembari mempraktekan kerajinan tempat pensil saat ditemui di rumahnya, Selasa (2/2).

Kemudian, perempuan berusia 55 tahun tersebut melanjutkan dengan menganyam. Tangannya bergerak lincah tapi tetap telaten. Menyambung gulungan demi gulungan hingga jadilah tempat pensil. Tak butuh waktu lama. Tak lebih dari satu jam, kerajinan itu jadi. “Kerajinan ini paling simpel,” sambungnya.

Sri merupakan warga Padukuhan Nglempong Lor RT 07 RW 22, Kalurahan Sariharjo, Ngaglik. Dulunya, dia seorang karyawan di sebuah perusahaan furnitur milik orang Eropa. Dia pernah bekerja di bidang desain, hingga kontrol produksi dan terlibat dalam sebuah proyek.

Namun, karena kelelahan hingga terkena serangan jantung, dia memutuskan mengundurkan diri pada 2014 lalu. “Lepas resigin saya nggangur. Lihat tumpukan koran, rasanya sayang, jadi ingin mengolah,” katanya.

Melalui YouTube, dia belajar. Sekali mempelajari langsung dipraktekkan. Siapa sangka bikin ketagihan. Sri pun semakin tertantang untuk menciptakan kreasi-kreasi lain. Mulai dari tempat pensil, vas bunga, mangkok, tempat permen, tas, topi, parsel buah, dan lain-lain.

Hingga saat ini sudah puluhan varian model dia buat. Mulai dari ukuran kecil hingga besar. Mulai dari yang simpel sampai rumit. Anyamannya pun juga variatif. Unik dan tampak mewah. Kerajinan koran ini mulai dia dalami dari 2016, hingga sekarang.

Belum lagi olesan warnanya, tampak mempercantik dan memberikan nuansa elegan. Ada pula warna natural. Dibubuhkan cat transparan dan masih menyisakan tampilan asli koran. Warnanya pun bervariasi. Teknik pewarnaan ini, sebutnya berkolaborasi dengan suaminya, Iwan Zuardi, 63, yang merupakan Pelukis.

Kerajinan ini dia jual online dan offline.”Kalau harganya mulai Rp 35 ribu hingga Rp 250 ribu,” sebutnya.

Selain dipasarkan di rumah pribadinya, dia juga menitipkan di sejumlah showroom di Sleman. Pandemi Covid-19, tak menyurutkan semangatnya untuk berkreasi.

Menurutnya, ini sebuah hobi, yang membuatnya bahagia. Dia pun tak menyangka, hobinya yang dia telateni ini membuahkan hasil dan digemari banyak orang. Tak ayal, dia pun sering diminta mendampingi, membagikan ilmunya. Peminat hasil krativitasnya itu beragam. Ada yang dari Bandung hingga Kalimantan.

Rupanya tak hanya kerajinan dari koran bekas. Perempuan dua anak ini juga membuat kerajinan lainnya. Mulai dari kerajinan kain planel, boneka hingga aksesoris dan souvenir. “Produksi saat ini terbatas, vakum dulu, karyawan dirumahkan dan masih menghabiskan stok lama,” imbuhnya.(bah)

Sleman