RADAR JOGJA – Belakangan ini ramai beredar kabar bahwa ada kubah lava baru di lereng Merapi. Menanggapi berita di media sosial itu, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta memberikan klarifikasi.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida menegaskan, material atau gundukan hitam yang terlihat itu bukan kubah lava baru. Berdasarkan hasil observasi, material tersebut terlihat tidak berpijar, tidak teramati adanya asap di material tersebut, serta tidak terdapat rekahan di sekeliling material.

“Kami simpulkan material itu adalah material vulkanik yang terbawa aliran awan panas guguran,” ujarnya Selasa (2/2). Hanik juga mengimbau kepada masyarakat untuk terus memantau informasi aktivitas Gunung Merapi dari sumber yang terpercaya. Informasi aktivitas Merapi dapat diakses melalui Pos Pengamatan Gunung Merapi terdekat. Juga di kanal-kanal media resmi.

Dalam kesempatan ini Hanik menjelaskan mengenai aktivitas Gunung Merapi terkini. Menurutnya, luncuran lava pijar di gunung api ini masih terus terjadi. BPPTKG Selasa (2/2) mencatat terjadi guguran lava pijar sebanyak tujuh kali dengan jarak luncur 800 meter ke barat daya hulu Kali Krasak dan Kali Boyong.
Guguran lava pijar itu terjadi pada priode pengamatan pukul 00.00-06.00.

Dalam periode yang sama juga terjadi gempa guguran 34 kali dengan amplitudo 3-28 mm, durasi 8-17 detik, gempa hybrid atau fase banyak satu kali, amplitudo 3 mm, S-P 0-3 detik, selama enam detik dan gempa tektonik jauh satu kali, amplitudo 3 mm, S-P 13 detuk, durasi 30 detik. “Secara visual asap kawah tidak teramati,” sebut Hanik.

Sedangkan dalam pengamatan Senin (1/2) pukul 18.00-24.00 juga terjadi 16 kali guguran lava pijar dengan jarak 800 meter mengarah ke barat daya hulu Kali Krasak, dan Kali Boyong. Gempa guguran 15 kali dan gempa tektonik jauh satu kali. status Merapi masih level III atau siaga.

Perpanjang Tanggap Darurat, OPD Bisa Ajukan Anggaran

Pemkab Sleman memperpanjang tanggap darurat bencana erupsi Gunung Merapi hingga 28 Februari. Jika ada kebutuhan terkait aganggaran untuk menangani bencana ini, setiap organisasi perangkat daerah (OPD) bisa mengajukan anggaran dalam dokumen pelaksanaan anggaran (DPA).

Kepala Pelaksana BPBD Sleman Joko Supriyanto menjelaskan, setiap OPD bisa mengajukan anggaran. Nantinya usulan akan direalisasikan menggunakan dana BTT (belanja tak terduga) yang berlaku selama masa tanggap darurat.

Ia mencontohkan seperti Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPUPKP) mengusulkan dana untuk perbaikan jalan evakuasi di Tunggularum sejauh 1 kilometer. Serta Dinas Perhubungan yang ingin menambah lampu penerangan di sepanjang jalur evakuasi dan lokasi pengungsian. “Misal butuh dana berapa juta bisa diusulkan. Dan, dana dipergunakan selama masa tanggap darurat,” kata Joko Selasa (2/2).

Sementara itu, Bupati Sleman Sri Purnomo dalam surar edarannya menjelaskan, perpanjangan darurat bencara Merapi dilakukan setelah mengamati laporan hasil pantauan BPPTKG. Yang mana pada 28 Januari telah terjadi peningkatan aktivitas Merapi, sehingga aktivitasnya tetap pada status siaga.

“Pemkab Sleman direkomendasikan melakukan mitigasi bencana akibat letusan Merapi yang bisa terjadi setiap saat,” jelas SP. Selain langkah mitigasi, perpanjangan status tanggap darurat juga dikarenakan adanya 145 warga Padukuhan Turgo yang mengungsi di Barak Purwobinangun, serta 10 warga Ngrangkah di Barak Plosokerep.

Para pengungsi perlu dipenuhi kebutuhan dasarnya. “Pemda dan masyarakat segera mengambil langkah-langkah tanggap darurat bencana Gunung Merapi, sesuai rekomendasi untuk evakuasi dan pengungsian,” kata SP. (kur/eno/laz)

Sleman