RADAR JOGJA  – Sebanyak 80 persen warga Padukuhan Jali, Kalurahan Gayam, Prambanan, Sleman. Mereka bermukim di kawasan zona merah. Sehingga, jika hujan mengguyur dengan intensitas tinggi tak jarang terjadi longsor hingga pohon tumbang.

Dukuh Jali Rumiyati mengatakan, setidaknya 417 Kepala Keluarga (KK) tinggal di padukuhan ini. Jika intensitas curah hujan tinggi, warga was-was. Meski khawatir, warga sudah dibekali tanggap bencana. Pemantauan tetap ancaman longsor terus dilakukan Komunikasi melalui grup WhatsApp di masing-masing wilayah pun dilakukan.

”Pemantauan hingga ronda malam juga berjalan. Terutama di wilayah rawan, jika melihat rekahan tanah warga langsung bisa melapor ke grup,” ungkap perempuan yang kerap disapa Rumi ini.

Untuk mengantisipasi bencana longsor, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman telah memasang dua early warning system (EWS). EWS longsor tersebut terpasang tepat di padukuhan ini. Kendati begitu, kondisinya (EWS) sedang rusak. Pihaknya telah menghubungi BPBD. ”Kemarin udah dateng mengecek. Katanya segera diperbaiki,” ucapnya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sleman Henry Dharma Wijaya membenarkan, sistem peringatan dini atau EWS longsor di wilayah tersebut kondisinya sedang rusak. Namun tidak untuk sistem deteksi pergerakan tanah. EWS tetap berbunyi jika terjadi rekahan tanah. Dijelaskan, kerusakan EWS lebih pada sistem menejemen data untuk mengontrol laporan ke BPBD Sleman.

”Misalnya, curah hujan intensitasnya berapa, pembentukan udara dan lain-lain itu belum bisa terkirim ke BPBD. Sehingga, menjadi kendala BPBD untuk melakukan pendataan untuk selanjutnya menginformasikan ke desa tanggap bencana (Destana) desa setempat,” paparnya.

Disebutkan, kurang lebih 24 EWS tersebar di wilayah rawan bencana Kabupaten Sleman. Dua diantaranya, deteksi longsor yang di pasang di wilayah Prambanan. Lainnya, EWS awan panas tersebar di kawasan lereng Merapi. Dan EWS banjir difokuskan pada banjir lahar hujan. Tersebar di sungai yang berhulu di puncak Merapi. “Seperti Sungai Krasak, Boyong, Opak, Gendol, Kali Trasi dan lain-lain,” sebutnya.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman Joko Supriyanto mengimbau agar warga yang bermukim di wilayah tebing tidak panik dan hendaknya selalu waspada terhadap bencana longsor. Sebab, puncak hujan sesuai prediksi BMKG akan terjadi hingga Februari. Warga diminta meningkatkan kewaspadaan dengan cara mengenali karakter tanah. ”Apabila didapati tanah merekah, sebaiknya menghindar. Demi keselamatan,” ujarnya. (mel/bah)

Sleman