RADAR JOGJA – Dua kapal rigid mengelilingi Embung Serut, Kalurahan Banyuraden, Gamping, Sleman. Kapal tersebut hendak dikerahkan untuk membantu korban kebakaran. Saat sebuah gubuk berlokasi di bantaran sungai terbakar. Sementara truk pemadam kebakaran tak dapat menjangkau lokasi tersebut.

Tampak pula warga histeris panik sembari meminta pertolongan. Satu korban mengalami cedera dan membutuhkan perawatan. Itulah kronologis kejadian dalam simulasi kebencanaan kebakaran yang dilaksanakan relawan gabungan Kalurahan Banyuraden, Minggu (31/1).

Panitia pelaksana kegiatan Samasta mengatakan, simulasi ini digelar sebagai wujud keprihatinan kebakaran di bantaran sungai. Mengingat November lalu terjadi peristiwa kebakaran di Sungai Bedog. Rerumpunan pohon bambu terbakar lantaran lokasinya sulit di jangkau, maka api sulit dipadamkan.”Nah, dari pengalaman itu kami berupaya melakukan pelatihan kesiapsiagaan kebakaran di bantaran sungai,” ungkap Panitia pelaksana kegiatan Samasta saat di lokasi Minggu (31/1).

Dijelaskan, dua kapal itu memiliki peran masing-masing. Salah satunya, kapal rigid alununium dilengkapi dengan diesel dan selang pemadam. Begitu mesin itu nyala, air menyembur dari selang dan siap untuk memadamkan api. Sementara satu kapal lainnya berjenis joox boat. Fungsinya untuk melakukan penyelamatan korban.

Koordinator Tim Rescue Banyuraden M Sholeh menambahkan, detrektor sebagai pembantu alat dapat mengoptimalkan dan meminimalisir kejadian kebakaran semak belukar di bantaran sungai.

Sosialisasi juga dilakukan oleh masyarakat. Agar lebih sigap menghadapi bencana kebakaran. Sebab, kebakaran bisa terjadi sewaktu-waktu. Bisa akibat kelalaian manusia ataupun karena konsleting listrik.

Dia mengajak masyarakat agar tidak membuang dan membakar sampah sembarangan. Khususnya di musim kemarau. Kemudian, mempersiapkan alat pemadam kebakaran (Apar) di rumah masing-masing. Sehingga jika sewaktu-waktu melihat percikan api bisa lebih dulu dipadamkan. Kalau konsleting listrik bisa dari sakelar dimatikan atau menghubungi pihak PLN.”Pola masyarakat juga harus melihat aspek timbulnya api. Dan ini sudah diberikan pemahaman secara rinci,” katanya. (mel/pra)

Sleman