RADAR JOGJA – Gunung Merapi meluncurkan lima kali guguran lava pijar. Lava pijar terdeteksi dalam pengamatan yang dilakukan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Minggu (31/1) periode pukul 00.00-06.00 pagi. Pengamatan itu menunjukkan material vulkanik itu memiliki jarak luncur sekitar 500 meter ke arah barat daya.

Dari amatan visual, puncak Merapi tampak jelas meski diselimuti kabut tipis 0-I. “Asap kawah Gunung Merapi tidak teramati,” tandas Kepala BPPTKG Hanik Humaida dalam laporannya. Lebih jauh hasil pemantauan meteorologi menunjukkan cuaca berawan di sekitar puncak Merapi. Angin bertiup lemah ke arah timur. Suhu udara 20-21 derajat celcius, kelembaban udara 72-74 persen, dan tekanan udara 917-918 mmHg.

Aktivitas kegempaan yang tercatat 19 kali gempa guguran berdurasi 10-66 detik dengan amplitudo 19 mm. Sebelumnya, guguran lava pijar juga sempat terjadi pada Minggu (30/1), tepatnya pada periode pengamatan pukul 18.00-24.00. “Teramati lima kali guguran lava pijar dengan jarak luncur maksimum 500 meter ke arah barat daya,” ungkapnya.

Dari hasil amatan itu, status Merapi tetap berada di level III atau siaga. Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan maka status Merapi akan segera ditinjau kembali.

Sementara itu, dari siang hingga sore mendung tampak menyelimuti puncak Merapi. Pada sore hari juga sempat terjadi hujan dengan intensitas cukup lebat. Dalam periode pengamatan sore tepatnya pada pukul 15.39, tercatat adanya awan panas guguran.

Awan panas tercatat pada seismogram dengan amplitudo 25 mm. Durasinya sekitar 61 detik dan jarak luncur mencapai lebih dari 600 meter ke arah barat daya atau hulu Kali Krasak dan Kali Boyong.

Seorang Relawan Positif, BPBD Lakukan Pengetatan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman melakukan pengetatan terhadap relawan dan pengunjung yang akan datang ke Barak Pengungsian Watuadeg. Hal ini karena ditemukan salah seorang relawan dari 65 orang yang positif Covid-19, usai dilakukan tes swab antigen, Kamis (28/1).

Kepala Pelaksana BPBD Sleman Joko Supriyanto menjelaskan, satu orang relawan positif saat antigen langsung menjalani swab PCR dan diminta karantina mandiri. Sebelumnya, yang bersangkutan belum sempat berinteraksi dengan para pengungsi.

Sebagai langkah antisipasi, saat ini pihaknya akan tetap menggunakan relawan di wilayah sekitar. Selain itu juga akan berusaha melakukan rapid antigen secara berkala. “Tetap menggunakan relawan di wilayah itu dan bukan dari luar,” kata Joko Minggu (31/1).

Tidak hanya relawan, pembatasan pengunjung dari luar yang datang ke pengungsian juga dibatasi. Para pengunjung nantinya tidak boleh menemui pengungsi secara langsung. Sedangkan bagi pengunjung yang akan memberikan bantuan, juga harus melalaui petugas posko. “Para pengunjung tidak boleh masuk ke barak, kita sudah jaga,” lanjutnya.

Sementara Kepala Pelaksana Harian Unitlak Purwobinangun Nurhadi menuturkan, sebelumnya tes swab antigen bagi petugas relawan ditargetkan oleh Pemkab sebanyak 100 orang. Mengingat di wilayah Turgo masih termasuk zona hijau.

Untuk relawan, kata Nurhadi, juga masih dibatasi dari wilayah kalurahan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya persebaran Covid-19 dari petugas yang berasal dari luar wilayah. “Namun untuk swab antigen bagi pengungsi belum diagendakan,” ungkapnya.

Hingga Minggu (31/1) siang, kata Nurhadi, jumlah pengungsi di Barak Pengungsian Watuadeh sebanyak 128 orang. Dengan rincian 32 lansia, dua ibu hamil, satu ibu menyusui, satu bayi, tujuh balita, 23 anak-anak, 61 dewasa dan seorang difabel. (kur/eno/laz)

Sleman