RADAR JOGJA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta  melakukan pemantauan secara khusus Gunung Merapi, menyusul terjadinya awan panas cukup besar pada Rabu (27/1). Pemantauan menggunakan drone untuk mengambil foto dan video dari udara di alur Kali Boyong.

Pemantauan dilakukan untuk memastikan jarak luncur awan panas atau wedhus gembel itu. Hasilnya, jarak luncur awan panas lebih dari 3 kilometer. “Jarak luncur awan panas pada 27 Januari mencapai 3,5 kilometer untuk jarak miring atau 3,2 kilometer jika dihitung jarak horizontal,” kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida kepada wartawan marin (29/1).

Luncuran awan panas lebih dari 3 km merupakan yang terjauh pada masa erupsi Merapi kali ini, sejak gunung api di perbatasan DIJ-Jateng itu dinaikkan statusnya dari waspada menjadi siaga 5 November 2020.

Hanik menjelaskan, kendati jarak luncuran awan panas Merapi melebihi 3 kilometer, akan tetapi masih dalam rekomendasi jarak bahaya. Artinya, masih belum mengancam penduduk yang memang tidak lagi ada di jarak luncuran tersebut.

“Jarak luncur awan panas guguran masih dalam rekomendasi jarak bahaya yang telah ditetapkan, yaitu pada jarak maksimum 5 kilometer dari puncak Merapi,” ungkap ahli gunung api yang bergelar doktor ini.

Hanik menyebut, awan panas masih berpotensi terjadi. Daerah yang berpotensi terkena bahaya awan panas guguran dan guguran lava adalah alur Kali Boyong, Kali Bedog, Kali Krasak, Kali Bebeng, dan Kali Putih, sejauh maksimal 5 kilometer.

“Erupsi eksplosif juga masih mungkin terjadi. Potensi bahaya erupsi eksplosif ini berupa lontaran material vulkanik dalam radius 3 kilometer dari puncak,” tandas Hanik.

Oleh karena itu, BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan apa pun di daerah potensi bahaya tersebut. Mengingat awan panas guguran dan lahar hujan Gunung Merapi dapat terjadi sewaktu-waktu.

“Kami terus melakukan pemantauan aktivitas Merapi. Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka status aktivitas Gunung Merapi akan segera kami tinjau kembali,” tambah Hanik. (kur/laz)

Sleman