RADAR JOGJA – Jarak Padukuhan Turgo, Purwobinangun, Pakem, dengan puncak Merapi lebih dari 6 Km. Jarak itu masih kategori aman dari potensi bahaya Merapi. Hanya saja, warga Turgo khususnya di bantaran Kali Boyong memilih mengungsi usai terjadi luncuran awan panas (wedus gembel) hingga 3 Km pada Selasa (27/1) siang, karena trauma.

Salah seorang warga Turgo, Marsiyam, 44, mengaku trauma akan adanya erupsi Merapi pada 22 November 1994. Saat itu, Marsiyam masih gadis. Erupsi saat itu membuat dua kakak dan keluarga lainnya meninggal dunia. Ditambah adanya hajatan pernikahan yang dihadiri masyarakat saat itu, menimbulkan banyak korban meninggal dunia.

Meskipun rumahnya berjarak 5,5 kilometer dari puncak Merapi, Marsiyam mengaku khawatir saat ada luncuran awan panas yang cukup besar. Mengingat rumah milik Marsiyam berjarak 25 meter dari tebing Kali Boyong. Saat Merapi meluncurkan awan panas, ia hanya bisa lari ke SD Tritis yang berjarak 1 Km dari rumahnya. “Namun saat mau pergi, motor tidak bisa dinyalakan. Hanya bisa lari,” kata Marsiyam di Barak Pengungsian Watuadeg, kemarin (28/1).

Sebelumnya, ia sudah menyiapkan surat-surat penting dan kebutuhan untuk mengungsi. Bersama anak dan orang tuanya, Marsiyam lebih memilih untuk menetap di pengungsian terlebih dahulu. Mengingat kondisi barak pengungsian yang sudah dirasa lebih nyaman, karena adanya sekat.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian Unitlak Purwobinangun Nurhadi mengaku, pengungsi didominasi warga RT 02, 03 dan 04 yang rumahnya dekat dengan aliran Kali Boyong. Alasan mengungsi karena khawatir adanya aliran lahar dan awan panas di wilayah sungai.

Hingga saat ini sudah ada 153 orang yang mengungsi. Dengan rincian 90 orang dewasa, satu ibu hamil, 35 balita, dan 26 lansia. Sebagian pengungsi masih diperbolehkan untuk pulang mengurus ternak dan mengambil keperluan. Hanya saja, waktu dibatasi dan pengungsi harus kembali pada pukul 10.00. “Pulang ada yang diantar petugas, ada yang memakai kendaraan pribadi,” katanya.

Akses masuk di Padukuhan Turgo, kata Nurhadi, saat ini juga masih dijaga oleh petugas. Hal ini untuk memastikan masyarakat yang naik adalah warga setempat. Untuk memastikan kesehatan pengungsi dari paparan Covid-19, relawan juga telah dilakukan swab test antigen. “Karena Turgo masih zona hijau,” lanjutnya.

Saat ini, kata Nurhadi, ternak masih belum akan dievakuasi. Pihaknya masih melakukan koordinasi dengan pemkab. Tercatat di Turgo ada 100 sapi dan 400 kambing. Jika nantinya dievakuasi, tempat relokasi sudah disiapkan di Padukuhan Sudimoro yang mampu menampung 400 ternak.

Sementara untuk ketersediaan logistik pengungsi, masih mencukupi dari Dinas Sosial Sleman. Jika nantinya ada donasi, akan ditampung terlebih dahulu di gudang, sehingga pemberi bantuan tidak bisa menyerahkan secara langsung ke pengungsi. “Untuk mengantisipasi bantuan sedikit tapi banyak yang membutuhkan, dikhawatirkan malah berebut,” tuturnya. (eno/laz)

Pasang Wifi Empat Titik di Purwobinangun

Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sleman akan memasang wifi di empat titik di Kalurahan Purwobinangun. Dua titik akan dipasang di Pos Pemantauan Turgo dan dua lainnya akan dipasang di Barak Pengungsian Watuadeg.

Kepala Diskominfo Sleman Eka Suryo Prihantoro menjelaskan di Barak Pengungsian Watuadeg akan dipasang dua wifi. Pihaknya bekerjasama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan telah melakukan pemasangan kemarin (28/1).

Pemasangan wifi bertujuan untuk memudahkan komunikasi antara relawan dan pihak pemerintah. “Untuk koordinasi terkait logistik, kebutuhan wartawan menyampaikan berita juga. Dan ini akan gratis untuk umum,” kata Eka di Barak Pengungsian Watuadeg.

Sedangkan untuk dua titik wifi lainnya baru terpasang satu di Pos Pemantauan Turgo. Sedangkan satu wifi yang belum terpasang, tertunda karenakan adanya guguran awan panas pasa Rabu (27/1) siang. Dua Pos Pemantauan Turgo yang mendapatkan wifi sebelumnya adalah blank spot. “Jaraknya 5 sampai 6 kiloneter dari puncak,” lanjutnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun mengapresiasi masyarakat Turgo yang saat ini sudah responsif. Dalam artian, jika sinyal bahaya sudah berbunyi masyarakat segera melakukan evakuasi mandiri dengan tetap mematuhi SOP. “Karena paling penting keselamatan diperoleh dari sana,” katanya.

Masyarakat di pengungsian, kata Muslimatun, juga tidak hanya berpangku tangan kepada petugas maupun pemerintah. Mereka masih tetap kembali ke rumah untuk mengurus pekerjaan rumah dan ternak. Meski demikian, ia meminta masyarakat untuk tetap waspada jika berada di Turgo. “Jangan panik, dan waspada saat cuaca sudah menunjukkan mendung atau menjelang siang hingga malam,” jelasnya.

Meski barak pengungsian ditinggali oleh warga Turgo, mereka juga harus tetap menerapkan protokol kesehatan ketat. Dengan mencuci tangan dan memakai masker untuk meminimalisasi persebaran Covid-19. (eno/laz)

Sleman