RADAR JOGJA – Warga Dusun Turgo, dievakuasi ke lokasi yang aman setelah sejumlah erupsi Gunung Merapi, Rabu (27/1) siang. Seluruhnya menempati barak pengungsian Purwobinangun di Kapanewon Pakem. Untuk sementara ada sekitar 150 warga yang mengungsi di barak ini.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman Joko Supriyanto menuturkan para pengungsi tak hanya kelompok rentan. Adapula pengungsi usia dewasa yang ikut turun. Mayoritas adalah keluarga dari pengungsi kelompok rentan.

“Sebelumnya kelompok rentan sudah tidur di SD Sanjaya Tritis, tepatnya RT 3 dan RT 4, selama 3 hari belakangan ini. Tapi tadi siang aktivitas Merapi lebih besar, sehingga sangat riskan hingga putuskan warga Turgo untuk mengungsi,” jelasnya ditemui di Barak Pengungsian Purwobinangun, Rabu malam (27/1).

Joko menambahkan,  aktivitas Merapi menjadi pertimbangan utama. Jarak luncuran awan panas sempat lebih dari 2 kilometer. Bahkan satu awan panas sempat mencapai 3 kilometer. Tepatnya awan panas pada pukul 12.53.

Dalam perkembangannya tidak hanya warga RT 3 dan RT 4 yang mengungsi. Joko menuturkan warga dari RT lainnya juga ingin mengungsi. Pertimbangannya adalah rasa aman dan nyaman selama Merapi masih beraktivitas.

“Ada warga dari RT lain yang ingin mengungsi, kami persilakan. Boleh-boleh saja kalau mau mengungsi. Tetap kami fasilitasi di barak pengungsian,” tambahnya.

Terkait persiapan secara umum, BPBD Sleman telah menyiapkan 2 barak pengungsian. Selain barak pengungsian Purwobinangun adapula Barak Pandanpuro di Kalurahan Hargobinangun Kapanewon Pakem.

Setiap barak, lanjutnya, memiliki kapasitas 50 bilik. Setiap bilik dapat diisi oleh 3 pengungsi. Sehingga total untuk satu barak pengungsian sebanyak 150 pengungsi.

“Awalnya kelompok rentan akan dipisahkan, tapi akhirnya dijadikan satu keluarga. Kalau total di Turgo itu ada sekitar 500 jiwa. Jadi saat ini tidak semua mengungsi. Yang mengungsi paling dekat dengan kali Boyong,” ujarnya. (dwi/sky)

Sleman