RADAR JOGJA – Pemkab Sleman resmi memperpanjang pengetatan terbatas kegiatan masyarakat (PTKM) hingga 8 Februari mendatang. Sehingga kegiatan belajar mengajar (KBM) melalui sistem daring dioptimalkan. Kendati begitu, area blank spot masih menjadi kendala efektivitas pembelajaran online ini.

Misalnya pembelajaran di SD Bronggang Baru, Argomulyo, Cangkringan. Karena termasuk area blank spot, maka sistem pembelajaran dibantu dengan handy talky (HT). Titik yang dapat dijangkau sinyal hanyalah di kantor guru. Jika keluar ruangan (ruangan siswa, Red), sinyal menghilang dan sulit mengakses internet.

Kemudian tidak semua operator seluler dapat ditembus. “Hanya beberapa saja, itu pun minim,” ungkap Wali Kelas 6 SD Bronggang Baru Muji Rahayu kepada Radar Jogja di kantornya, Senin (25/1).

Untuk kebutuhan pembelajaran daring sehari-hari, sekolah didukung jaringan wireless fidelity (wifi). Pembelajaran tetap mengoptimalkan melalui whatsapp group (WA). Yang mana komunikasi terbatas. Hanya dapat menerima gambar dan chat saja. “Kalau telepon dan video tidak semua bisa menerima, apalagi mau zoom. Susah. Kadang kala ya hanya voice note,” katanya.

Dikatakan pada semester ganjil tahun ajaran 2020, siswa dan sekolah pernah mendapatkan bantuan HT. Sebagai pendukung KBM siswa. Namun juga belum optimal lantaran frekuensinya masih terbatas. Suara guru bisa terdengar oleh semua murid. Begitu juga sebaliknya. Namun suara murid tidak dapat didengar murid lainnya. “Jadi sangat terbatas. Kita mengenal hanya dari suara. Tidak bisa melihat siswa layaknya zoom meeting,” ungkap Muji.

Sekolah menerima bantuan peminjaman alat HT oleh kapanewon setempat. Peminjaman alat pun berlangsung sekitar dua bulan, terakhir Desember lalu. Dan selanjutnya ditarik kembali. Adanya HT disebutkan cukup membantu. Namun maskih belum optimal.

Bantuan ini hanya dapat menjangkau jumlah siswa kelas enam saja. Ada 28 siswa, yang selanjutnya dibagi delapan pos. Masing-masing kelompok terdiri atas dua sampai tiga orang.

KBM daring dengan dukungan HT lebih dulu dilaksanakan di SD N 1 Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, awal pembelajaran semester ganjil 2020. Lantaran susah sinyal dan susah komunikasi melalui suara, maka sekolah berinisiatif memanfaatkan HT yang dimiliki masyarakat.

Kepala Sekolah SDN 1 Kepuharjo Suwardi mengatakan, dengan dukungan masyarakat dan didukung adanya saluran komunikasi sosial bersama (SKSB) di lereng Merapi, maka KBM dengan HT dapat berjalan dengan baik. Meski alat ini juga memiliki kekurangan.

“Setidaknya membantu. Terlebih kami sudah memiliki frekuensi sendiri khusus pembelajaran. Sudah didaftarkan di Kementrian Komunikasi dan Informatika dan tercatat di radio amatir penduduk indonesia (RAPI),” bebernya. Sehingga, kapan pun dibutuhkan frekuensi tetap aman.

Kini pihak sekolah memiliki tiga HT. Satu untuk kepala sekolah, dua lainnya untuk guru kelas. KBM menggunakan HT ini dilaksanakan seminggu sekali di masing-masing kelas. Mulai kelas 3 hingga kelas 6.

Adapun keuntungannya, Suwardi membeberkan, mengajak siswa lebih aktif dan berani berbicara dan didengar banyak orang. Mengenalkan alat komunikasi urgent dan bebas pulsa (kuota).

“Karena HT saat ini sedang digunakan untuk pantauan kebencanaan oleh masyarakat dan saat ini juga sedang ujian tryout kelas 6, sementara kita gunakan daring manual lewat WA. Orang tua mengambil soal, dan siswa diberi waktu dua jam untuk mengerjakan. Berikutnya, soal bisa dikumpulkan di hari itu juga,” jelasnya. (mel/laz)

Sleman