RADAR JOGJA -Proses pemulangan pengungsi warga Kali Tengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan diawali dengan pemulangan seluruh hewan ternak milik warga, secara berkala.Kandang darurat dan komunal telah kosong sejak Minggu (24/1).

Suroto menuturkan inisiatif warga ini muncul pasca terbitnya rekomendasi dari BPPTKG. Kaitannya adalah arah potensi bahaya erupsi Gunung Merapi. Dari awalnya didominasi arah tenggara menjadi arah barat daya.

“Kalau ternak sejak Minggu (24/1) sudah naik semua ke Kalitengah Lor. Diawal evakusi, ada sekitar 150an ternak sapi yang turun. Semuanya berada di kandang komunal di Singlar maupun kandang darurat di barak pengungsian Glagaharjo,” jelasnya ditemui di Barak Pengungsian Glagaharjo, Selasa (26/1).

Suroto tak mempermasalahkan kepulangan hewan ternak milik warga. Dia hanya berpesan warga tetap memantau kondisi terkini Merapi. Setidaknya menjadi acuan untuk tindakan setelahnya. Termasuk mempertimbangkan evakuasi sewaktu-waktu.

Berdasarkan data terakhir, ada sekitar 50 ekor sapi yang terevakuasi di kandang komunal Singlar. Lalu di kandang darurat barak pengungsian Glagaharjo terdapat sekitar 70 ekor sapi. Sementara untuk keseluruhan hewan ternak di Dusun Kalitengah Lor ada sekitar 300 ekor.

“Tidak masalah kalau ternak pulangnya lebih dulu, masyarakat juga sudah konsultasi dengan kami (Pemerintah Kalurahan Glagaharjo). Saat ini kondisi kandang komunal dan darurat sudah kosong semua,” katanya.

Sama halnya dengan barak pengungsian, Suroto belum akan membongkar kandang. Langkah ini sebagai antisipasi dan wujud mitigasi bencana. Terlebih ancaman erupsi Gunung Merapi masih cukup tinggi.

“Kandang darurat tetap kami diamkan, setidaknya menunggu hingga status Merapi normal. Kalau normal nanti akan dikemasi, tapi kami sifatnya tetap standby,” ujarnya.

Dukuh Kalitengah Lor Suwondo memastikan seluruh hewan ternak telah berada di kandang warga. Keputusan untuk memulangkan hewan ternak lebih awal, menurutnya lebih bijak. Langkah ini untuk menghindari kepulangan bersamaan dengan warga pengungsi.

Pemulangan lebih awal juga bertujuan memberi rasa tenang kepada warganya. Terutama bagi warga yang memiliki hewan ternak. Langkah ini sama halnya dengan kebijakan mengungsikan warganya. Kala itu, hewan ternak turun untuk memberikan rasa tenang kepada para pengungsi di barak pengungsian Glagaharjo.

“Kalau sudah naik, warga bisa nyicil ayem. Jadi saat sudah tiba di kediamannya sudah tidak memikirkan bagaimana hewan ternaknya. Warga memang berharap hewan ternaknya naik duluan,” katanya.

Suwondo tak menampik adanya kendala selama ternak berada di kandang darurat maupun komunal. Permasalahan utama adalah pemenuhan pakan dan air untuk ternak miliknya. Warga tetap merumput di Dusun Kalitengah Lor untuk kemudian diantarkan ke kandang komunal dan darurat.

“Kalau masih dibawah (kandang komunal dan darurat) itu terkendala biaya yang lebih besar. Untuk transportasi mengantar pakan. Memang ada bantuan kendaraan, tapi warga kebanyakan tetap membawa sendiri,” ujarnya.(dwi/sky)

Sleman