RADAR JOGJA – Kekhawatiran meningkatkanya angka kahimlan akibat banyaknya aktivitas di rumah, selama masa pandemi ternyata tidak terbukti. Buktinya, pada 2020 lalu angka kehamilan di Sleman cenderung stabil.

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Esti Kurniasih mengatakan tidak ada peningkatan kasus dari tahun sebelumnya. Angkanya, kehamilan pada 2020 mencapai 14.546 orang.

Hanya, sebutnya, usia persalinan di bawah umur lebih tinggi bila dibandingkan 2019. Selisih angkanya sembilan. Ada 28 ibu melakukan persalinan di usia 15 tahun sampai 17 tahun lebih 11 bulan, pada 2020.

Sementara di tahun sebelumnya, ada 18 kasus di usia serupa dan satu kasus di usia 10 tahun hingga 14 tahun lebih 11 bulan. Jumlah ibu hamil didominasi usia produktif, antara 20 tahun hingga 40 tahun. Esti tak memberikan keterangan detail terkait angka kehamilan usia muda yang cenderung meningkat.
”Yang pasti kami sudah memberikan edukasi, seperti posyandu remaja, inovasi getar thala melalui tim getar thala di sekolah, duta remaja sehat, konselor sebaya dan sebagainya,” katanya Minggu (24/1).

Selain itu, pihaknya juga memberikan komunikasi dan informasi pada calon pengantin (caten). Mereka diberikan penyuluhan kesehatan reproduksi (kespro) pada remaja. Dan menggalakkan informasi dan promosi melalui berbagai kegiatan usaha kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM). “Upaya promotif preventif melalui pemeriksaan kesehatan pada anak usia pendidikan dasar sudah dilakukan mulai kelas I hingga kelas IX,” imbuhnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Sleman Mafilindati Nuraini menambahkan, angka kehamilan dapat ditekan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk ber-KB (keluarga berencana). Disebutkan, kepesertaan aktif KB tahun lalu tinggi, yakni 77,34 persen. Bahkan di atas angka nasional 76 persen.

Disebutkan, total pasangan usia subur (PUS) di Sleman ada 144.604 orang. Sementara jumlah peserta aktif (PA) mencapai 111.833 akseptor. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding tahun 2019 sebanyak 110.274 akseptor. “Angkanya meningkat sebanyak 1.559 akseptor,” papar Linda pekan lalu.

Perempuan yang akrab disapa Linda ini menuturkan, sempat terjadi kekawatiran ledakan angka kehamilan. Sebab, pelayanan KB sempat tutup hampir sebulan. Itu pada saat awal pandemi Covid-19. Pemerintah mengimbau, agar mengurangi kontak langsung. ”Termasuk pelayanan KB ini,” jelasnya.

Kendati begitu, sebulan setelahnya, pelayanan KB mulai aktif kembali. Bahkan, pelayanan jemput bola pun juga dilakukan. Karena banyak juga masyarakat yang takut mengunjungi fasilitas kesehatan (faskes), akibat takut tertular Covid-19.

“Kami terus lakukan pendekatan. Melalui konsultasi online dan intensifkan program KB,” ujarnya. Dengan demikian dia berharap selama pandemi dan work from home (WfH), kehamilan dapat ditunda. (mel/bah)

Sleman