RADAR JOGJA – Penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka yang rencananya digelar 1 Februari mendatang, dipastikan tidak akan terlaksana. Hal itu seiring dengan perpanjangan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PTKM) hingga 8 Januari.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman Ery Widaryana meminta agar sekolah mengoptimalkan pembelajaran daring. Guru diminta untuk lebih kooperatif dan kualitas daring lebih ditingkatkan. Apalagi, banyak modul pembelajaran yang sudah tersedia. Sehingga guru bisa mencapaikan dengan baik.
”Ciptakan metode pembelajaran yang efektif bagi siswa,” kata Ery Minggu (24/1).

Sebelumnya, banyak orang tua murid yang setuju apabila KBM digelar secara tatap muka. Namun, melihat pertumbuhan penularan Covid-19 yang belum juga mereda, saat ini justru orang tua khawatir apabila luring tetap dilaksanakan. ”Sehingga ditunda dulu karena kami mengikuti kebijakan pusat,” terangnya.
Kaitannya dengan tatap muka, sudah dilakukan persiapan. Verifikasi fasilitas dan kesiapan di sejumlah sekolah juga sudah dilakukan. Persiapan fasilitas Covid-19 melalui rekomendasi tim gugus tugas kecamatan. ”Termasuk persetujuan orangtua,” jelasnya.

Namun, pihaknya belum membuat surat edaran (SE) perpanjangan daring. Pembuatan SE atas izin bupati, saat ini belum ada instruksi. Sehingga pihaknya belum mengeluarkan SE ditunjukkan sekolah dan orang tua atas hal tersebut.
Dia mengimbau, guru, siswa dan orangtua siswa dapat bekerjasama. Peran aktif orang tua juga diperlukan untuk membimbing putra-putrinya. Demikian juga bantuan kuota internet yang digulirkan pemerintah pusat. ”Agar dapat dimaksimalkan bagi pembelajaran siswa,” jelasnya.

Sementara itu Nurmawati, 38, warga Purwomartani, Kalasan mengatakan, pembelajaran daring masih banyak yang perlu dievaluasi. Sebab, selama ini penyampaian guru kepada siswa sulit diterima. Penekanan materi pembelajaran juga kurang merata. Penekanan materi lebih dominan matematika. Sementara bidang lainnya, guru hanya memberikan soal saja yang di share di dalam grup WhatsApp. Entah dalam bentuk video YouTube atau soal biasa.
”Harusnya ada metode lain, bagaimana, guru bisa menjelaskan. Saya rasa komunikasinya kurang,” ungkap Nurma.

Kurangnya metode inilah yang membuat orang tua kerepotan kerepotan. Hingga dia pun memutuskan memanggil guru les private untuk memberikan pemahaman dalam belajar.

Diungkapkan, pihaknya sempat memberi masukan kepada pihak sekolah. Agar di metode pembelajaran semester genap ini, lebih di tingkatkan. Termasuk komunikasi kepada orang tua. Bagaimana kesulitannya, memberikan pemahaman anak didik dan lain-lain. ”Namun hingga tiga mingguan berjalan, metode pembelajaran masih sama belum ada peningkatan,” keluhnya.

Dia berharap, pemerintah turut membantu memberikan solusi. Sehingga kebutuhan belajar mengajar siswa dan guru dapat berjalan dengan baik. Aktif dan komunikatif. “Kalau kuota, semester lalu dapat bantuan empat bulan. Cukup membantu sih, tapi Januari ini saya rasa belum ada pemberitahuan,” pungkasnya. (mel/bah)

Sleman