RADAR JOGJA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG)  Jogjakarta melaporkan pertumbuhan kubah lava Gunung Merapi sisi barat daya. Beda data per 21 Januari, kubah lava baru ini memiliki volume 104 ribu meter kubik.

Sementara untuk pertumbuhan kubah lava harian mencapai rata-rata 8,6 ribu meter kubik. Volume tersebut masih tergolong kecil jika dibandingkan saat erupsi 2006.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida memaparkan ada perubahan signifikan terhadap morfologi Gunung Merapi sisi barat daya. Seiring dengan pertumbuhan kubah lava di titik tersebut. Pertumbuhan ini tergolong cepat, karena laporan per Selasa (19/1) masih kisaran 85 ribu meter kubik.

“Volume terbaru saat ini 104 ribu meter kubik perhari. Laporan sebelumnya 85 ribu meter kubik lalu sepekan sebelumnya dikisaran 46 ribu meter kubik. Masih terus tumbuh,” jelasnya, Jumat (22/1).

Walau angka pertumbuhan rata-rata harian di kisaran 8,6 ribu meter kubik tetap ada lonjakan. Salah satunya adalah pertumbuhan kubah lava per 22 Januari. Pertumbuhan kubah lava teramati mencapai 19 ribu meter kubik perhari.

Walau begitu, Hanik memastikan pertumbuhan kubah lava masih tergolong normal. Sebagai perbandingan adalah fase erupsi Merapi sebelum-sebelumnya. Tercatat pertumbuhan kubah lava sempat mencapai 120 ribu meter kubik perhari.

“Pertumbuhan kubah lava ini bisa menjadi indikator potensi bahaya erupsi dan dampaknya. Dari data ini bisa dibilang potensi didominasi arah barat daya. Tapi untuk sisi tenggara tetap kami pantau,” katanya.

Hanik menambahkan,terkait kondisi aktivitas seismik atau kegempaan cenderung menurun. Kondisi ini mulai terjadi sejak 12 Januari. Begitupula deformasi atau penggembungan tubuh gunung juga cenderung landai.

Berdasarkan laporan pos pengamatan gunung Merapi (PGM) Babadan sudah tak terjadi deformasi. Khususnya tubuh Gunung Merapi sisi barat. Sementara sebelumnya sempat terjadi deformasi hingga 21 centimeter perhari.

“Gas juga demikian, gas pernah mencapai puncak pada 7 Januari, dengan konsentrasi lebih dari 750an. Skrg tinggal di atas 500 atau kurang dari 550,” tambahnya.

BPPTKG masih mempertahankan status Siaga atau Level III Gunung Merapi. Rekomendasi zona potensi bahaya berada radius 5 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Potensi bahaya meliputi guguran lava pijar dan awan panas guguran.

Potensi bahaya lain adalah lontaran material vulkanik. Kondisi ini bisa muncul apabila jenis erupsi Merapi mengarah pada eksplosif. Radius bahaya yang ditetapkan adalah 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

“Untuk arah luncuran guguran dilihat dari potensi bahaya sektor selatan hingga barat daya meliputi sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih,” katanya.(dwi/sky)

Sleman