RADAR JOGJA – Sudah jatuh tertimpa tangga. Mungkin itulah yang kini dirasakan obyek wisata (obwis) Grojogan Watu Purbo di Padukuhan Bangunrejo, Merdikorejo, Tempel, Sleman. Jumlah pengunjung terus turun saat ini.

Dihujam pandemi, ditambah adanya pengetatan terbatas kegiatan masyarakat (PTKM) di DIJ. Turut berdampak pada jumlah kunjungan di obwis ini. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Grojogan Watu Purba Maryono mengatakan, jumlah kunjungan menurun drastis 80 persen. Ditambah sejak adanya erupsi Gunung Merapi mengarah ke Kali Krasak, pengunjung menyusut lagi hingga 10 persen. “Penurunan 90 persen ada. Dari normalnya lebih dari seribu kunjungan motor per hari kini tak sampai seratus,” ungkap Maryono Rabu (20/1).

Disebutkan, kunjungan terhitung dari jumlah motor yang masuk parkir. Kunjungan terbanyak saat weekend. Itu pun belum sebanyak sebelum pandemi. “Sekitar 300-an motor,” tuturnya.

Meskipun begitu, soal pengamanan tetap diprioritaskan. Selain diperketat unsur protokol kesehatan Covid-19. Pengelola juga selalu memantau debit air, untuk keamanan pengunjung wisata.”Kami di sini untuk berjaga-jaga. Sewaktu-waktu air naik, pengunjung dilarang turun ke sungai,” ungkap Slamet salah satu pengelola di obwis Grojogan Watu Purbo,.

Dikatakan, wahana wisata yang menghadirkan keindahan air terjun soft dump Kali Krasak ini debit airnya cenderung normal. Sehingga jika ada pengunjung yang hendak bermain air masih aman.

Berdasarkan pantauan Radar Jogja, beberapa pengunjung sesekali turun ke aliran sungai untuk berswafoto. Kendati begitu, tidak dijumpai pengunjung bermain air di grojokan. “Ya, alirannya cukup deras. Tapi volumenya tak setinggi tiga hari lalu,” katanya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihak pengelola memperketat pemantauan. Sedikitnya delapan personel di tugaskan pemantauan di bantaran Kali Krasak. Itu jika hari biasa. Pada Minggu, penjagaan diperketat menjadi 15 personel. Semua personel menggunakan HT untuk berkomunikasi. “Kami juga selalu berkomunikasi dengan pihak hulu dari Merapi sana. Baik dari SAR maupun BPBD,” terang Ivan selaku petugas keamanan obyek tersebut.

Jika diukur dari status kebencanaan banjir, wilayah tersebut masuk dalam kawasan rawan bencana (KRB) III. Berada di aliran utama sungai yang terhubung langsung dari puncak merapi. Jaraknya sekitar 20 kilometer (km) dari puncak. “Pokoknya kita pantau dan imbau terus. Pengunjung harap berhati-hati jika bermain di sungai, sebab bebatuan disana licin,” tuturnya. Meski, kata dia, seminggu sekali bebatuan tersebut dibersihkan dengan cara disikat.

Pihaknya juga memperketat prokes, mulai dari cita mas jajar (cuci tangan, pakai masker dan jaga jarak). Lalu pengukuran suhu badan hingga pendataan pengunjung semua dicatat. Pemberlakuan jalan searah mencegah kerumunan juga sudah disiapkan. “Kami juga disinfeksi tiga kali dalam seminggu,” sebutnya. (mel/pra)

Sleman