RADAR JOGJA – Gunung Merapi masih bergejolak. Gunung api teraktif di dunia dini hari Selasa (19/1) kembali mengeluarkan awan panas guguran dengan tinggi kolom 500 meter, mengarah ke barat daya atau hulu Kali Krasak sejauh 1.800 meter. Ini jarak terjauh selama Merapi berstatus siaga sejak November 2020.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Hanik Humaida mengatakan, awan panas guguran itu terekam pada seismogram pada pukul 02.27. “Awan panas ini memiliki durasi 209 detik dengan amplitudo maksimum 60 mm,” kata Hanik.

Selain luncuran awan panas guguran, selama periode pengamatan pukul 00:00-06:00 kemarin, BPPTKG juga mencatat adanya 30 kali guguran material dengan jarak luncur maksimum 300-900 meter. Guguran material ini juga mengarah ke barat daya.

BPPTKG juga merekam satu kali gempa awan panas guguran dengan amplitudo 60 mm dan durasi 209 detik, 31 kali gempa guguran dengan amplitudo 4-46 mm dan durasi 24-103 detik. Juga dua kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 3-5 mm dan durasi 9-16 detik, serta dua kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 34-75 mm, dan durasi 7.2-7.4 detik.

Berdasarkan pengamatan visual pada masa pengamatan di atas, asap kawah berwarna putih dengan intensitas sedang dan tinggi 50 meter di atas puncak kawah Merapi. Cuaca di sekitaran puncak Merapi pada dini hari hingga siang kemarin juga cukup cerah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dengan suhu udara 14-20 derajat celsius, kelembaban udara 71-93 persen, dan tekanan udara 563-686 mmHg.

Sebelumnya, per 14 Januari 2021 BPPTKG mencatat volume kubah lava Merapi telah mencapai 46.766 meter kubik, dengan laju pertumbuhan sekitar 8.500 meter kubik per hari. Berdasarkan hasil pengamatan selama sepekan terakhir (8-14 Januari), BPPTKG menyimpulkan, aktivitas vulkanik Merapi masih cukup tinggi dan mempertahankan status pada level III atau siaga.

Potensi bahaya akibat erupsi Merapi diperkirakan meliputi area dalam radius lima kilometer dari puncak. BPPTKG pun menyarankan aktivitas penambangan di sungai-sungai yang berhulu di Merapi kawasan rawan bencana (KRB), dihentikan serta meminta pelaku wisata dan pendaki tidak melakukan kegiatan di KRB. (kur/laz)

Sleman