RADAR JOGJA – Kepala BPPTKG Hanik Humaida memaparkan volume kubah lava Merapi sisi barat daya telah tumbuh mencapai 85 ribu meter kubik. Sementara untuk angka pertumbuhan harian mencapai rata-rata 8.000 meter kubik perhari. Kondisi ini mulai terjadi pasca erupsi awal Januari 2021.

Walau begitu, Hanik memastikan pertumbuhan ini relatif kecil. Sebagai perbandingan, kondisi sebelumnya mencapai 20 ribu meter kubik perhari. Bahkan saat erupsi Merapi 2006, pertumbuhan kubah lava Merapi mencapai 70 meter kubik perhari.

“Sekarang kecil 8.000 meter kubik perhari tapi kita tetap waspada. Kalau volume total, untuk yang kubah lava sisi barat sudah 85 ribu meter kubik,” jelasnya ditemui di Pendopo Parasamya Setda Pemkab Sleman, Selasa(19/1).

Kondisi berbeda justru ditunjukan oleh kubah lava 2018. Material vulkanik tersebut justru tak mengalami pertumbuhan. Penyebabnya adalah terhentinya suplai magma ke permukaan. Kondisi ini juga terjadi pada gundukan yang berada di sisi tengah kawah Merapi.

“Dari pemantauan kami, yang di tengah tidak berkembang atau sudha berhenti. Tidak ada indikasi pertumbuhan yang ditengah karena konsentrasi tingkat aktivitas di barat daya lereng lava 1997,” katanya.

Hanik menambahkan, aktivitas vulkanik Merapi saat ini didominasi munculnya guguran. Mulai dari material, lava pijar hingga awan panas. Terbaru adalah luncuran awan panas pada Selasa dini hari (19/1). Memiliki jarak luncur mencapai 1,8 kilometer menuju arah barat daya.

Berdasarkan data BPPTKG, jarak luncuran iniĀ  paling jauh. Sebelumnya rata-rata luncuran awan panas kisaran 800 meter. Walau begitu, Hanik memastikan radius tersebut masih tergolong aman.

“Ini masih dlalam kategori yang pendek dan kecil. Namun demikian harus tetap waspada. Untuk pantauan, kami optimalkan di semua jalur, tidak.hanua di Boyong dan Bebeng tapi juga sisi tenggara yaitu Gendol,” tambahnya. (dwi/sky)

Sleman