RADAR JOGJA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), melaporkan adanya penurunan aktivitas seismik secara signifikan. Mulai dari gempa vulkanik dangkal hingga deformasi tubuh gunung Merapi. Kondisi ini mulai terjadi sejak 12 Januari 2021.

Seperti Selasa dini hari (19/1), BPPTKG mencatat adanya guguran lava pijar sebanyak 30 kali dengan jarak luncur 300-900 meter ke barat daya. Juga terpantau awan panas guguran 1 kali dengan jarak luncur 1,8 kilometer ke Kali Krasak dan Kali Boyong pada pukul 02.27 WIB.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida memastikan fenomena ini wajar dalam sebuah aktivitas gunung berapi. Menjadi pertanda bahwa cairan magma sudah berada di permukaan puncak. Sehingga tidak ada desakan magma dari tubuh Gunung Merapi.

“Kondisi ini mulai terpantau sejak 12 Januari. Gempa vulkanik dangkal lalu multi phase sudah puluhan yang tadinya ratusan. Lalu deformasi yang awalnya sampai 21 centimeter perhari pada 1 Januari, lalu turun drastis sampai kurang 2 centimeter perhari,” jelasnya ditemui di Pendopo Parasamya Setda Pemkab Sleman, Selasa (19/1).

Walau begitu Hanik memastikan aktivitas vulkanik masih cukup tinggi. Ditandai dengan munculnya guguran ke arah barat daya. Baik guguran material maupun lava pijar. Adapula kemunculan awan panas guguran.

Munculnya guguran, lanjutnya, berasal dari magma yang muncul ke permukaan. Selanjutnya menumpuk dan menjadi kubah lava sisi barat daya. Berdasarkan data BPPTKG,  guguran yang terjadi berasal dari material kubah lava baru.

“Magma dari dalam indikasinya belum ada. Karena itu tadi, tidak ada deformasi dan gempa-gempa yang lebih dalam. Maka yang menjadi indikator adalah adanya guguran lava pijar dan beberapa awan panas,” katanya.

Hanik menjelaskan karakter erupsi Merapi kali ini adalah efusif. Berupa lelehan lava pijar secara perlahan dari kubah lava barat daya. Fase ini diikuti tekanan gas namun dalam kadar yang kecil.

Guna mengantisipasi potensi bahaya, jajarannya menerbitkan rekomendasi baru. Berupa arah luncuran guguran menuju barat daya. Tepatnya ke hulu Kali Kuning, Kali Bebeng, Kali Krasak dan Kali putih. Potensi bahaya tetap radius 5 kilometer dari puncak.

“Kalau potensi bahaya secara umum dari tenggara hingga barat daya, sesuai adanya bukaan kubah lava. Erupsi sudah terjadi sejak 4 Januari, tapi untuk status kami pertahankan di Siaga atau Level III,” jelasnya.(dwi/sky)

Sleman