RADAR JOGJA – Belum genap dua minggu, sekitar 301 tempat usaha melanggar aturan pengetatan secara terbatas kegiatan masyarakat (PTKM). Didominasi kurangnya sarana dan prasarana protokol kesehatan (prokes) di 77 tempat usaha.

Kabag Humas dan Protokol Sleman Shavitri Nurmala Dewi menjelaskan setiap harinya, akan ada Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Sleman yang melakukan patroli. Dari 301 tempat usaha yang melanggar prokes mulai dari 11-16 Januari selama penerapan PTKM.

Selain 77 tempat usaha yang kurang sarana dan prasaran prokes Covid-19, sebanyak 71 tempat usaha lainnya ditetapkan melanggar karena melebihi jam operasional. Serta ada 37 tempat usaha yang tidak menjaga jarak dan tujuh lainnya ditemukan tidak menggunakan masker.

Tempat usaha yang terbukti melakukan pelanggaran, kata Evie, Satgas hanya melakukan tindakan berupa sosialisasi. “Edukasi 277 kali, teguran lisan 13 kali, delapan tempat usaha diberikan berita acara pemeriksaan (BAP) dan pembubaran kerumunan di tujuh tempat,” jelas Evie melalui keterangan tertulis Minggu (17/1).

Menurut Evie, tempat usaha yang melakukan pelanggaran meliputi tempat usaha kuliner, tempat hiburan, SPA, supermarket dan tempat-tempat umum yang sering untuk berkerumun masyarakat. Kegiatan sosialisasi yang dilakukan oleh satgas penanganan Covid-19, sesuai dengan Instruksi Bupati nomor 1 dan 2 tahun 2021. “Utamanya penerapan protokol kesehatan di masyarakat,” lanjutnya.

Dengan diberikannya tindakan hukum kepada para pelanggar, Evie berharap, ke depannya masyarakat bisa lebih patuh dan meningkatkan kedisiplinan. Terlebih dalam penerapan protokol kesehatan. Mengingat, saat ini Kabupaten Sleman masih berada dalam zona merah COVID-19. ”Patuh prokes sebagai upaya pencegahan dan pengendalian Covid-19,” kata Evie.

Sementara itu, Plt Kepala Satpol PP Sleman, Susmiarta menuturkan, sebelumnya ada 102 tempat usaha yang didatangi selama 4 hari penerapan PTKM. Berlokasi di Jalan Kaliurang, Jalan Magelang, Ring Road Utara, hingga Jalan Kabupaten. Ditemukan beberapa tempat usaha di wilayah tersebut masih melakukan pelanggaran. Didominasi tidak adanya fasilitas cuci tangan dan pengecekan suhu tubuh, serta tidak menerapkan jaga jarak sehingga mengakibatkan kerumunan.

Selain mengedepankan tindakan persuasif, Susmiarta mengaku tetap memberikan sanksi. Namun berupa teguran lisan hingga pembubaran kerumunan. Jika pelanggaran serupa diulangi, pihaknya memastikan akan memberikan sanksi yang lebih berat. “Yakni berupa penutupan tempat usaha,” ungkapnya. (eno/bah)

Sleman