RADAR JOGJA – Pemerintah Kalurahan Glagaharjo tak ingin gegabah menyikapi perubahan rekomendasi yang dikeluarkan, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG)  mengubah rekomendasi potensi dan daerah bahaya Gunung Merapi.

Kaitannya adalah pemulangan para pengungsi ke kediamannya masing-masing di Dusun Kalitengah Lor. Pemulangan tetap menunggu kajian terutama instruksi dari Pemerintah Kabupaten Sleman.

Lurah Glagaharjo Suroto mengakui masih ada trauma erupsi Merapi 2006. Kala itu para pengungsi dengan terpaksa dipulangkan ke kediamannya masing-masing. Alasannya adalah telah lama berada di pengungsian. Ditambah belum ada pertanda Merapi akan erupsi.

“Ya, saya juga masih trauma itu to (erupsi Merapi 2006). Sempat pulang 2 hari, habis itu (Gunung Merapi) langsung meletus. Saya juga tidak ingin seperti itu. Jadi kalau pemerintah belum memulangkan, jangan pulang dulu,” jelasnya ditemui di Kantor Kalurahan Glagaharjo, Senin (18/1).

Suroto mengatakan, jajarannya terus melakukan pendekatan kepada pengungsi. Walau saat ini guguran didominasi arah barat daya, bukan berarti tak ada ancaman. Terlebih hingga saat ini bukaan kawah terbesar tetap berada di Tenggara.

Itulah mengapa hingga detik ini, Suroto tetap meminta warganya tetap di pengungsian. Terutama kelompok rentan yang berasal dari Dusun Kalitengah Lor. Kebijakan ini sebagai antisipasi munculnya erupsi ke arah tenggara.

“Secara visual larinya (arah guguran) ke barat, tapi itu kan juga tidak jaminan aman. Misal meletus secara eksplosif itu kan naik, nanti awan panasnya sampai mana. Jadi ini yang perlu diantisipasi,” katanya.

Disatu sisi, Suroto tak menampik adanya penyusutan jumlah pengungsi. Tercatat saat ini tersisa 187 pengungsi. Awalnya jumlah pengungsi sempat menyentuh angka 350 jiwa. Tepatnya setelah Merapi mengalami erupsi dan memunculkan awan panas, Kamis pekan lalu (7/1).

“Masyarakat memang ingin pulang, contoh setelah ada informasi ini, tadi malam pengurangan banyak, dari 300an sekian, tinggal 187 pengungsi. Yang naik kebanyakan usia 50 tahun ke bawah,” ujarnya.

Suroto menambahkan, guna mengantisipasi kenekatan pengungsi, jajarannya melakukan pendekatan personal. Memberikan pemahaman tentang potensi bahaya Gunung Merapi. Termasuk agar tidak serta merta pulang ke kediamannya tanpa ada instruksi resmi.

Hingga saat ini pihaknya terus berkoordinasi dengan Pemkab Sleman. Kaitannya adalah keputusan untuk memulangkan atau tidanhya pengungsi. Suroto memastikan hingga saat ini belum ada surat resmi kebijakan pemulangan pengungsi.

“Infonya besok Selasa ini (19/1) mau dirapatkan dulu di Kabupaten. Tapi kami tekankan, keselamatan warga itu hukum paling wajib. Secara resmi pemerintah belum memulangkan pengungsi,” tambahnya.

Salah satu pengungsi asal Kalitengah Lor, Sayem mengaku ingin segera pulang ke rumah. Hanya saja dia tak ingin mendahului keputusan pemerintah. Perempuan berusia 65 tahun ini tetap menunggu instruksi dari pemerintah.

Dia mengaku cukup bosan berada di barak pengungsian Apalagi Sayem dan pengungsi lainnya telah berada di barak pengungsian selama 2,5 bulan. Tepatnya sejak kenaikan status Gunung Merapi per 5 November 2020.

“Sudah kepingin pulang, tapi kan kalau mau pulang pemerintah belum ijinkan. Kalau sudah diijinkan pulang ya tenang bisa dirumahnya sendiri. Tapi saya manut pemerintah saja,” ujarnya.(dwi/sky)

Sleman