RADAR JOGJA – Sebanyak 12.380 sumber daya manusia (SDM) kesehatan di Sleman masuk dalam putaran pertama penerima vaksin Covid-19. Dengan adanya 52 fasilitas kesehatan yang terlibat dalam pelayanan vaksin, ditargetkan vaksinasi putaran pertama akan selesai dalam waktu lima hari.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo menjelaskan, secara hitungan matematis, pelayanan hanya akan memakan waktu lima hari.

Mengingat jumlah vaksinator yang ada saat ini ada 220 orang. Sebelumnya, vaksinator hanya berjumlah 58 orang. Namun, pada Senin (11/1) dan Selasa (12/1) dilakukan pelatihan kembali untuk vaksinator baru. “Jadi setiap fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) memiliki 4-5 vaksinator,” jelas Joko, Kamis (14/1).

Jika setiap harinya faskes mampu melakukan vaksinasi kepada 60 orang, maka dalam lima hari seluruh SDM kesehatan selesai divaksin. “Akan terapi kmi siapkan rentang waktu untuk mengantisipasi adanya SDM yang belum tervaksin hingga akhir Januari,” jelasnya

Disebutkan sebelumnya, total ada 14.454 SDM kesehatan yang diusulkan ke Kementerian Kesehatan untuk bisa mendapatkan vaksin. Sisa dari SDM kesehatan yang belum mendapatkan jatah vaksin, rencananya akan mendapatkan jatah giliran dalam putaran kedua.

Usai vaksinasi putaran pertama, Joko mengaku akan memantau penerima vaksin jika timbul gejala. Namun, tidak ada perlakuan khusus selama pemantahan. Setelah disuntik vaksin, SDM kesehatan juga harus tetap menjaga protokol kesehatan secara ketat. Karena belum seluruh penduduk mendapatkan vaksin. Untuk putaran berikutnya, Joko memperkirakan, vaksin akan didistribusikan kembali pada akhir Januari hingga awal Februari.

Vaksinasi Covid-19, kata Joko, akan dilangsungkan dalam dua gelombang. Gelombang pertama dimulai pertengahan Januari hingga Maret. Gelombang kedua dimulai dari April hingga Desember mendatang.

Menurutnya, vaksinasi Covid-19 adalah salah satu langkah strategis dalam upaya memutus rantai penularan Covid-19. Mengingat penambahan kasus di Sleman masih tinggi dengan angka kematian yang cenderung meningkat. Per 13 Januari, total kasus positif mencapai 6.345 atau 0,57 persen. Dengan kasus sembuh sebesar 75,24 persen atau 4.774 orang dan kasus aktif sebanyak 1.351 atau 21,29 persen. “Kasus meninggal dunia tinggi mencapai 120 atau fatality rate adalah 1,89 persen,” ungkap Joko.

Sementara itu, Peneliti Clinical Epidemiology and Biostatistics Unit (CE&BU) FKKMK UGM Jarir At Thobari menuturkan, vaksin sudah sejak lama menjadi intervensi yang sangat efektif untuk mencegah penyakit infeksi. Seperti campak, polio, hepatitis B, dan influenza. Jika semua orang dalam suatu komunitas dilakukan vaksinasi terhadap suatu penyakit, maka kemampuan patogen untuk menyebar akan sangat terbatas. “Hal ini disebut herd atau indirect atau population immunity,” tuturnya.

Terkait efikasi vaksin, menandakan kemampuan vaksin dalam mengurangi risiko penyakit. Namun bukan berarti menjadikan penyakit tersebut tidak ada sama sekali. Melainkan, bila ada penularan, maka kasus yang terjadi bentuknya asimtomatis, ringan, tidak sampai memerlukan perawatan intensif, atau tidak sampai menyebabkan kematian kepada pasien.

Jika banyak orang terimunisasi, hal ini akan melindungi orang-orang yang tidak bisa diberikan vaksinasi. Seperti bayi, anak-anak, remaja, hingga kelompok yang menderita penyakit berat.

Mengenai vaksin Sinovac yang digunakan oleh Indonesia belum dapat diberikan kepada lansia, menurutnya, bukan berarti lansia tidak menjadi prioritas vaksinasi. Akan tetapi, vaksin Sinovac memang belum diuji klinis kepada lansia. Demikian pula dengan vaksin-vaksin lain yang digunakan oleh Indonesia.
“Ada beberapa vaksin yang bisa bekerja dengan baik pada usia lanjut, dan vaksin lain mungkin tidak,” tambahnya.

Vaksin yang ideal, lanjutnya, memiliki syarat. Beberapa di antaranya yaitu stabil kondisi di lapangan dengan kata lain tidak cepat rusak. Jika vaksin tidak stabil, bisa menjadikan vaksin tidak efektif bahkan berbahaya untuk populasi. Syarat lainnya memberikan kekebalan tahan lama, dosis tunggal, aman, dan bisa terjangkau semua pihak. (eno/bah)

Sleman