RADAR JOGJA – Pengetatan terbatas kegiatan masyarakat (PTKM) DIJ berdampak pada pedagang kaki lima yang berjualan di malam hari. Mereka (pedagang malam) harus memutar otak agar bisa berdagang untuk menyambung hidup.

Hal ini dirasakan Warih, 33, pedagang yang berdomisili di Gamping. Warih yang biasa berjualan kacang, jagung godok dan wedang ronde di sekitaran Malioboro, kini banting setir membuka ketering.

Warih tak lagi berjualan malam, dan memilih membuka usaha di kontrakannya. Dia cenderung menjajakan dalam bentuk online. ”Biasanya sih keliling. Tapi melihat kondisi dan aturan ini saya belajar jualan online lewat WhatsApp dan Facebook,” ungkap dia, Rabu (13/1).

Warga Jawa Timur ini mengaku, sedikit kesulitan berjualan online karena belum terbiasa, lantaran harus menerapkan transaksi digital. ”Ini tidak mudah, ya sedikit kerepotan apalagi saya kerja sendiri,” katanya.

Meski penghasilan belum seperti saat berjualan keliling, dia berharap cara ini dapat menjadi peluang. Solusi mendapatkan penghasilan. Dikatakan, selama sejak tiga bulan terakhir penghasilannya mengalami penurunan. Jika sebelum pandemi dia mampu mengantongi hingga Rp 300 ribu per hari, selama pandemi ini penghasilannya turun menjadi Rp 180 ribu per hari. ”Dua bulan terakhir menyusut di bawah 100 ribu per hari,” katanya.

Sama halnya, Nuri Setiawati, 47 warga Balecatur, Gamping yang menjual snack dan minuman hasil usaha mikro kecil menengah (UMKM). Selama pandemi ini dia cenderung mengandalkan jualan online. Sebab, ladang dia berjualan turut terdampak.

Sebanyak sepuluh outlet yang menjadi tempat menitipkan barang dagangan di Malioboro tutup lebih awal. Sepinya wisatawan menyebabkan barang dagangan tertahan lebih lama dari biasanya. ”Biasanya sudah mulai dipasok lagi, kini tertunda,” ujarnya.

Untuk mengoptimalkan jualannya, dia gencar melakukan promosi melalui medsos dan akun bisnis. Dia juga mulai bekerjasama dengan ojek online (ojol). Selain itu, mengepakkan sayap lagi dengan berjualan produk-produk baru dan memaksimalakan kolaborasi dengan produk-produk lain dalam bentuk parsel.

Sementara itu saat pandemi omsetnya sudah berkurang 40 persen. Ditambah pembatasan ini pendapatannya juga menalami penurunan. ”Normal selama pandemi Rp 50 juta per bulan, kini menurun menjadi Rp 30 juta per bulan,” jelasnya (mel/bah)

Sleman