RADAR JOGJA – Dokter Tirta Mandira Hudhi atau yang lebih dikenal dengan sebutan dr Tirta mengikuti kick off pelaksanaan vaksin Covid-19 pertama kali di Puskesmas Ngemplak 2, Sleman, Kamis (14/1) Vaksinatornya, dr Novianti Agustin, dokter umum Puskesmas Ngemplak.

Dia memilih fasilitas pelayanan kesehatan ini dengan alasan khusus. Paling utama adalah mengajak para generasi muda khususnya tenaga kesehatan muda untuk menjalani vaksinasi di puskemas.

Sejatinya influencer muda ini terpilih sebagai penerima vaksin perdana di Istana Negara, Rabu (13/1). Bersama sejumlah tokoh negara dan publik figur lainnya. Hanya saja dia memilih untuk menjalani vaksinasi di domisili tinggalnya.

“Iya sebelumnya sempat diajukan bareng Pak Jokowi. Ada saya, mbak Nana (Najwa Shihab), tapi mbak Nana tidak bisa. Saya sudah ijin ke Pak Menkes (Budi Gunadi Sadikin). Saya memilih Puskemas, alangkah elok tenaga kesehatan anak muda di Puskemas,” jelasnya ditemui di Puskemas Ngemplak II, Kamis (14/1).

Tirta meluruskan beberapa kabar hoax yang beredar. Mulai dari komposisi vaksin hingga uji klinis oleh BPOM. Dia memastikan seluruh tahapan dilalui sesuai prosedur. Bahkan dia menjamin komposisi dari vaksin Sinovac aman.

Terkait efektivitas, Sinovac memilikinnolai efikasi sebanyak 65,3 persen. Sementara utnuk kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) atau dampak dibawah 1 persen. Sebagai perbandingan vaksin Pfizer 1,5 persen lalu vaksin Moderna 4 persen.

“September sejak diviralkan oleh negara, sudah siap. Sinovac sudah teruji klinis tahap III oleh Biofarma dan BPOM. Kelebihan selain efikasi 65,3 persen adalah safety KIPI dibawah 1 persen,” katanya.

Tirta turut menjelaskan detil cara kerja vaksin Sinovac. Pasca penyuntikan, penerima vaksin tetap diminta menerapkan protokol kesehatan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Untuk selanjutnya menjalani vaksin tahap kedua, 2 Minggu kemudian.

Tirta menambahkan, Vaksin Sinovac, datang dalam beberapa tahap. Pengiriman pertama, Indonesia mendapatkan 15 juta dosis. Sementara untuk target nasional adalah 70 persen dari penduduk Indonesia menerima vaksin.

“Efisikasi 65,3 persen, lalu faktor resiko terkena Covid faktor berat, 3 kali lebih rendah. Artinya kemungkinan Covid-19 perburukan 3 kali lebih rendah,” tambahnya. (dwi/sky)

Sleman