RADAR JOGJA – Untuk mengatasi permasalahan sampah yang ada, Pemkab Sleman berencana untuk membangun tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) 3R (reduce, reuse, recycle). Hanya, keberadaan TPST tersebut masih sulit diwujudkan tahun ini.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, Dwi Anta Sudibya beralasan, saat ini pihaknya masih meninjau ulang terkait detail engineering design (DED) TPST yang ada di wilayah Minggir. Karena DED sebelumnya berbeda di lokasi Tambakboyo.

Pemkab Sleman,juga pernah merencanakan pembangunan TPST di Kalurahan Madurejo, Prambanan sebelum berpindah ke Tambakboyo, Condongcatur. Namun, kedua wilayah tersebut terpaksa diganti karena mendapat penolakan dari warga.

Untuk mengantisipasi hal serupa terjadi, kata Dwi, pihaknya juga telah mengajak masyarakat Minggir untuk studi orientasi ke wilayah Tangerang. Agar masyarakat bisa melihat praktek yang sudah berjalan dan merasa yakin. Dengan harapan nantinya, TPST yang dibangun di wilayah Minggir, tidak akan bermasalah di kemudian hari. ”Kesulitan dalam mewujudkan pembangunan TPST adalah pemahaman warga,” kata Dwi Rabu (12/1).

RIZKY TAUFIK SYAEFULLAH FOR RADAR JOGJA

Menurutnya, masyarakat masih beranggapan bahwa wilayah Piyungan adalah TPST. Tidak adanya pengolahan sampah kembali, TPST Piyungan lebih tepat disebut dengan tempat pembuangan akhir (TPA). Meskipun belum menyebutkan lokasi pasti, di wilayah Minggir nantinya, luas TPST Sleman yang akan dibangun kurang lebih 1,6 hektar. “TPST yang akan dibangun oleh DLH Kabupaten Sleman sangat berbeda sekali dengan Piyungan,” bebernya.

Dijelaskan, sampah yang dibuang di TPST Sleman, nantinya adalah sampah residu. Sehingga perlu ada pengolahan sampah terlebih dahulu. Sampah organik akan diolah dengan dikomposkan, sedangkan sampah anorganik akan dimanfaatkan kembali. ”Serta residunya akan dimusnahkan dengan termal,” terangnya.

Dengan adanya TPST tersebut, masyarakat juga akan didorong untuk bisa memilah sampah. Saat ini, pemilahan sampah oleh masyarakat hanya dilakukan bagi yang sudah mengikuti bank sampah dan TPS 3R. Total, ada 207 bank sampah dan 24 TPS 3R di wilayah Sleman. Meskipun demikian, para penggerobak juga kadang memilah sampah sebelum dibuang ke depo. Jika di depo masih belum terpilah, petugas di depo nanti memilahnya. “Jadi berjenjang,” katanya.

Ke depan, pihakanya akan lebih menggalakan pemilahan sampah. Terutama sampah yang mempunyai berat seperti sisa makanan dan buah-buahan. Yang akan diolah menggunakan teknologi magot. Sedangkan untuk sampah daun, nantinya akan tetap dikomposkan. Direncanakan, lokasi pengolahan akan di Tambakboyo khusus untuk unit kompos. “Karena nanti kalau TPST Piyungan jadi dikelola swasta, pembayaran akan dilakukan untuk setiap ton sampah. Sehingga kami harus sudah merintis untuk mengelola sampah yang berat,” jelas Dwi. (eno/bah)

Sleman