RADAR JOGJA – Naiknya harga pupuk subsidi dari pemerintah, membuat petani merasa terbebano dan lebih memilih menggunakan pupuk kompos. Petani juga mulai mengurangi dosis penggunaan pupuk subsidi.

Ketua Forum Petani Kalasan Janu Riyanto menjelaskan saat ini para petani yang memiliki hewan ternak mulai mengaktifkan kembali pupuk kandang. Selain digunakan untuk menggantikan pupuk subsidi yang mulai naik harganya, pupuk kompos juga diperuntukkan menambah unsur hara di lahan pertanian.

Selain itu, petani juga mengurangi dosis pemupukan dalam menggunakan pupuk subsibidi. Jika sebelumnya satu musim tanam membutuhkan 25 kilogram pupuk urea, kini Janu hanya menggunakan 12,5 kilogram pupuk. Untuk membantu kebutuhan pupuk para petani, Petani Penyuluh Swadaya (PPS) Sleman juga telah membuat pupuk organik. “Sebagian petani juga terpaksa beli pupuk non subsidi yang harganya lebih mahal,” jelas Janu Selasa (10/1).

Sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian nomor 49 tahun 2020 menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) beberapa jenis pupuk subsidi sepertj pupuk urea naik menjadi Rp 2.250 dari haega awal Rp 1.800 per kilogram.

Sedangkan pupuk Za dari Rp 1.200 menjadi Rp 1.700 perkilogram. Dan pupuk petroganik dari Rp 500 menjadi Rp 800 kilogram. Pupuk subsidi, juga akan disesuaikan kebutuhannya dengan luas lahan petani. Setiap hektar lahan, hanya akan mendapatkan jatah 37,5 kilogram pupuk urea. “Jadi tidak bisa mengambil jika sudah memenuhi jumlah,” lanjutnya.

Janu berharap, pemerintah bisa memberi keleluasaan berbudidaya dengan mempermudah keberadaan pupuk. Jika harga pupuk tinggi, hal tersebut juga harus selaras dengan harga produk pertanian yang tinggi. Harga produk pertanian yang masih tergolong rendah, juga belum bisa memberikan kesejahteraan bagi petani.

Sementara itu, penjual pupuk Dedi mengaku kenaikan harga pupuk bersubsidi telah tejadi sejak 1 Januari. Harga tertinggi adalah pupuk SP-36 yakni Rp 120.000 per karungnya. Disusul debgan pupuk phonska dengan harga Rp 115.000 per karung dan pupuk urea dengan setiap karungnya dihargai Rp 112.500. “Harga terendah per karung adalah pupuk petroganik Rp 32.000 atau Rp 800 per kilonya,” kata Dedi.

Untuk pupuk organik, Dedi mengaku mendapatkan jatah untuk menjualnya ke Kalurahan Tirtomartani dan Purwomartani Kalasan. Untuk ketersediaan pupuk, Dedi mengaku stok aman untuk bisa mencukupi kebutuhan petani. (eno/pra)

Sleman