RADAR JOGJA – Masyarakat ditutut meningkatkan kewasapadaan ekstra di musim penghujan seperti saat ini. Tidak hanya terhadap penyebaran Covid-19, masyarakat juga harus waspada dengan adanya demam berdarah dengue (DBD) yang laju penyebarannya tinggi.

Kepala Dinas Kesehaan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo mengatakan, jumlah angka DBD selama 2020 mencapai 810 kasus. Dengan jumlah korban meninggal dunia ada dua orang. Jika dibandingkan tiga tahun sebelumnya, angka ini lebih mendominasi.

KASUS TINGGI: Air yang menggenang dapat memicu sarang nyamuk penyebab DBD. Masyarakat harus waspada dengan adanya DBD yang laju penyebarannya tinggi..(RIZKY TAUFIK SYAEFULLAH FOR RADAR JOGJA_

Joko menyebut, angka kasus DBD selama 2019 lebih rendah, dengan 728 kasus dan seorang meninggal. Pada 2018 yang terendah dari tiga tahun terakhir, sebanyak 144 kasus dengan jumlah korban meninggal satu orang.
Pada 2017, angka kasusnya lebih tinggi dari 2018. Yakni, sebanyak 427 kasus. “Korban meninggal mencapai tiga orang,” sebut Joko, Selasa (12/1).

Berdasarkan data 2020, jumlah kasus yang mendominasi terpantau di lima Kapanewon. Antara lain Kapanewon Prambanan, mencapai 120 kasus. Lalu di Kapanewon Gamping ada 117 kasus. Mlati 104 kasus, Godean 95 kasus dan Depok ada 79 kasus. ”Kalau data Januari ini belum pada masuk,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Prambanan Toto Suharto menyebut, salah satu penyebab tingginya angka kasus DBD di Prambanan, dikarenakan kendala survei di lapangan. Sebab, selama pandemi ini survei ataupun pemantauan hanya dimaksimalkan melalui online via grup WhatsApp. Saat ini tidak ada kunjungan lapangan ke pokjanal DBD tingkat desa seperti sebelum korona.

Menurutnya penanganan DBD menjadi tugas bersama. Baik masyarakat maupun stakeholder. Sebab, ini menyangkut kombinasi masalah lingkungan dan perilaku. ”Keduanya harus seimbang tak bisa saling lepas,” ujarnya.
Walaupun situasi pandemi, dikatakan petugas tetap melakukan surveilans epidemiologi . Beberapa kegiatan pemberdayaan masyarakat antara lain membentuk jumantik alit (Julit), satu rumah satu jumantik (Turu Santik) dan pemberian abate di setiap desa. Bila abate kurang, dapat meminta langsung ke puskesmas.

Demikian juga pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dilakukan dengan mengubur benda-benda tak terpakai pemicu sarang nyamuk, menguras dan menutup bak mandi. Apabila diperlukan menggunakan obat nyamuk untuk menghindari gigitan nyamuk aedes aegypti. ”Kalo di korona kita menggencarkan protokol kesehatan, kalo DBD msh menggencarkan PSN,” pungkasnya. (mel/bah)

Sleman